Tampilkan postingan dengan label Sepotong Halaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepotong Halaman. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 November 2017

Menyalahkan Orang Lain

Yang dilakukan Nabi Adam ketika 'didepak' dari Surga bukan menyalahkan Iblis, tapi dia berdoa kepada Allah dengan penuh penyesalan. Anehnya, doanya nabi Adam bukan 'mengutuk Iblis' tapi dia malah bilang dia yang salah. Ini kan keren banget. Doa Nabi Adam dalam surat Al-Araf: 23 dalam kontekstual doa tadi, gak ada satupun kalimat bahwa Nabi Adam menyalahkan Iblis, "رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ" "Dzholamna=saya telah dzolim", nyalahin diri sendiri. Walaupun pada kenyataannya Nabi Adam digoda sama Iblis untuk mendekati pohon Khuldi dan makan buahnya, tapi dia nggak nyalahin Iblis tuh... 


Coba cek juga kisahnya Nabi Yunus ketika ditelan hiu raksasa di laut lepas, apa yang dilakukan? BERDOA. Apa doanya? Surat Al-Anbiya ayat 87 "لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ" Dalam doa Nabi Yunus tersebut, kata yang digunakan sangat jelas, "Innii kuntu minadzolimin=sungguh aku termasuk orang-orang dzolim". Gak nyalahin hiu. Nabi Yunus sadar banget, ditelannya dia oleh ikan hiu raksasa adalah teguran Allah karena kurang sabar & mudah marah menghadapi kaumnya yang kafir. Tapi walaupun ditelan hiu, Nabi Yunus gak nyalahin hiu. Dia tetep nyalahin dirinya sendiri. Leadershipnya keren banget.


Coba tengok juga kisah Nabi Musa ketika 'nonjok' salah satu kaum fir'aun & gak sengaja buat dia mati. Apa yang dilakukan? BERDOA. Surat Al-Qashash ayat 16, "رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ" Jelas! "Dzolamtu nafsii = aku telah menzolimi diriku sendiri". Nyalahin diri sendiri, bukan orang lain. 


Nah, Nabi-Nabi aja yang deket sama Allah, kalau terjadi sesuatu pada dirinya, mereka tidak menyalahkan orang lain atau takdir. Kita??

Banyak-banyak istighfar. Banyak-banyak taubat. Terlalu banyak dosa yang kita perbuat. Terlalu sering kita nyalahin orang lain, padahal yang salah adalah kita. 

((Repost status FB Dewa Eka Prayoga))

Senin, 22 Mei 2017

Menentukan Arah

((Sebuah tulisan menarik yang ditemukan dari halaman muka line))

Mungkin menurutmu, kamu termasuk orang-orang itu. Mereka yang disukai karena capaian akademiknya oke, karirnya kece, passion-nya menuntun pada prestasi, aktivitas sosialnya menginspirasi, keluarganya harmonis, dan seterusnya.

"Hebat! Keren! Luar bisa! Inspiratif!" begitu kamu seringkali dipuji.

Namun, sampai kamu menunjukkan perspektif ideologimu di ruang publik, kamu tidak lagi hebat buat mereka. Sekalinya kamu bersuara soal agama, utamanya ketika prinsipmu tidak sesuai dengan narasi (media) arus utama, segala kebaikan di atas langsung sirna.

"Sia-sia kamu belajar sampai ke luar negeri. Pikirannya masih sempit!"

"Saya pikir dia toleran soalnya sering bantuin semua lapisan masyarakat. Ternyata akhi-akhi fans Erdogan!"

"Katanya dia banyak dapat penghargaan internasional? Kok kemarin dukung aksi itu sih?"

"Ya ampun, ternyata si itu simpatisannya Ustad anu lho. Kemarin dia posting fotonya di medsos. Jadi gak ngefans deh."

. . .

Setinggi apapun gelar pendidikan kamu dapat dengan bermartabat, ketika kamu menanyakan alasan sahabatmu yang melepas jilbab, kamu akan dianggap tidak berpikiran terbuka.

Seluas apapun kamu bergaul dengan teman lintas agama, ketika kamu menanyakan alasan temanmu yang berpindah agama, kamu akan dinilai tidak menerimanya apa adanya.

Sebanyak apapun prestasi mutakhir kamu peroleh di bidang profesionalmu, ketika kamu berbincang perihal penerapan nilai-nilai agama untuk kehidupan, kamu akan disebut fundamentalis yang kolot.

. . .

Maka kamu memilih untuk diam. Untuk tidak banyak berkomentar pada setiap permasalahan umat, terlebih yang melibatkan agama. Untuk menjadi netral demi tidak dicap konservatif, fundamentalis, apalagi pro teroris.

Kamu memilih menyimpan dalam-dalam perihal agamamu sebagai urusan spiritual yang hanya tentangmu dan Tuhanmu. Kamu yakin ini yang terbaik, sebab dengan menarik agama dari ruang publik, kamu akan hidup damai.

Padahal, kamu hanya pura-pura damai. Pura-pura menutup mata kalau keadaan di luar baik-baik saja. Tidak berani bersuara tapi merasa dengan begitu menjadi pahlawan.

Padahal kamu tahu, Nabimu tidak diam saja. Nabimu tidak hanya menyimpan urusan agamanya dalam bilik-bilik munajat spiritual personalnya.

Nabimu menggerakkan manusia. Mengaplikasikan nilai-nilai agama yang diyakininya sebagai solusi dalam banyak aspek kehidupan. Nabimu menyuarakan prinsipnya, dan tidak takut sekalipun harus dimusuhi, bahkan terancam dibunuh masyarakat arus utama.

Tapi ketakutanmu toh tidak perlu sebesar itu. Hanya pada popularitas yang hilang, pujian yang berubah cacian, atau kehilangan pekerjaan lah... kamu merasa takut.

Bahkan, kamu pun takut untuk belajar agama lebih rajin. "Yang biasa-biasa saja lah. Nanti dikira fanatik!" katamu.

Padahal, Nabi yang katamu teladan utamamu itu begitu mengutamakan urusan agama dalam hidupnya. Padahal, bukankah keyakinan keagamaanmu tidak ada apa-apanya dibanding Nabimu itu, hingga pada setiap ayat-Nya, kamu perlu penjelasan ilmiah terlebih dahulu?

Jadi jika hari ini ketakutan-ketakutan "duniawi" itu masih menjadikanmu semakin tidak percaya diri dengan agamamu di ruang publik, coba tengok dirimu. Apakah ilmu itu yang kian pudar, atau iman itu yang tidak pernah ada?

(( Esty D I ))

Jumat, 10 Maret 2017

Nasihat Pagi

"Setiap kali engkau memperbaiki niatmu maka Allah akan memperbaiki keadaanmu. 

Dan setiap kali engkau mengharapkan kebaikan untuk orang lain, engkau akan mendapatkan kebaikan dari arah yang tidak kamu sangka. 

Dan saat kita hidup untuk membahagiakan orang lain, Allah akan memberi kita rizki berupa orang lain yang akan membahagiakan kita. 

Maka berusahalah untuk memberi bukan menerima, karena setiap kali engkau memberi, maka engkau akan menerima tanpa meminta sekalipun."

~Syeikh Shalih Awadh Al Mughamisi
  Imam Masjid Quba

Jumat, 09 Desember 2016

Kemudahan yang Melenakan

Ujian paling berat adalah ketika kita diberi kemudahan lalu terlena didalamnya, sehingga menyakiti hati sesama manusia lainnya. Melenakan, sering mendatangkan penyakit hati tanpa disadari, berhati hatilah..

*jangan bicara tentang hartamu dihadapan orang miskin

*jangan bicara tentang kesehatanmu dihadapan orang sakit

*jangan bicara tentang kekuatanmu dihadapan orang lemah

*jangan bicara tentang kebahagiaanmu dihadapan orang yang sedih

*jangan bicara tentang kebebasanmu dihadapan orang yang terpenjara

*jangan bicara tentang anakmu dihadapan orang yang tidak memiliki anak

*jangan bicara tentang orangtuamu dihadapan anak yatim

Karena mereka sudah cukup terluka dengan ujiannya.

~Ali bin Abi Thalib r.a.

Senin, 28 November 2016

Reclaim Your Heart

We must realize that nothing happens without purpose. Nothing. Not even broken hearts. Not even pain. That broken heart and that pain are lessons and signs for us. They are warnings that something is wrong. They are warnings that we need to make a change. Just like the pain of being burned is what warns us to remove our hand from the fire, emotional pain warns us that we need to make an internal change. We need to detach. Pain is a form of forced detachment. Like the loved one who hurts you again and again and again, the more dunya hurts us, the more we inevitably detach from it. The more we inevitably stop loving it.

"Verily with hardship comes ease." [Qs. 94:5]
Growing up I think I understood this ayah wrongly. I used to think it meant; after hardship comes ease. In other words, I though life was made up of good times and bad times. After the bad times, come the good times. I though this as if life was either all good or all bad. But that is not what the ayah is saying. The ayah is saying with hardship comes ease. The ease at the same time as the hardship. This means that nothing in this life is ever all bad (or all good). In every bad situation we're in, there is always something to be grateful for. With hardship, Allah also gives us strength and patience to bear it. 

~Reclaim Your Heart, Yasmin Mogahead

Senin, 21 November 2016

Tentang Berdoa

Jangan salahkan Allah jika Dia menangguhkan penerimaan doamu dan jangan pula kamu jemu untuk berdoa. Sebab sesungguhnya jika kamu tak memperoleh apa yang kamu inginkan, kamu pun tak rugi. Jika Dia tak segera menerima doamu di kehidupan duniawi, maka Dia akan menyisakan bagimu pahala di kehidupan kelak.

Rasulullah saw bersabda:
"Pada hari kebangkitan, hamba-hamba Allah akan mendapati dalam kitab amalnya berbagai amal yang tak dikenalinya. Lalu, dikatakan kepadanya bahwa itu adalah balasan dari doa-doanya di kehidupan dunianya yang belum dikabulkan disana."

Saat dirimu berdoa, kamu juga harus selalu berada dalam dua keadaan, yakni kesadaran untuk selalu berdzikir kepada Allah dan kesadaran untuk mentauhidkan-Nya sepanjang waktu, setiap saat, setiap siang atau malam, sehat atau sakit, suka atau duka. Atau tahan saja doamu sambil menunjukkan keridhaan dan kepasrahan menerima kehendak Allah. Seperti jasad mati dihadapan orang yang memandikannya, atau seperti bayi di tangan perawat, atau seperti bola polo di depan pemain polo yang menggulirkannya dengan tongkat polonya. Dan ketahuilah, takdir pun membolak-balikkan dirimu sekehendak-Nya.

~Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Kitab Adab As-Suluk wa At-Tawassul Ila Manazil Al Muluk

Senin, 05 September 2016

Harga Sebuah Penantian

Kau tahu mengapa menunggu sangat mahal? Karena bayarannya adalah waktu. Adakah yang lebih mahal dari itu?
.
Jika kamu memutuskan untuk menunggu maka jangan sampai salah tunggu. Pastikan dia memang berhak ditunggu. Jika bersikeras tetap menunggu maka kuatkan hati. Sebab mungkin saja dia yang ditunggu ternyata sedang menuju orang lain.
.
Menunggu dalam diam penuh resiko. Sebanding dengan harganya, sesuai dengan bahagianya jika ternyata diam diam dia juga menjadikan kamu sebagai tujuan.
.
Aku tahu kamu lebih suka kalimat barusan dari pada kalimat di atasnya. Tapi aku kabarkan wahai hati, di dunia nyata kalimat yang tak disuka itulah yang paling banyak terjadi. Orang yang hati nanti ternyata sedang menuju hati lain.
.
Sekarang terserah kamu, aku hanya berdoa semoga penantianmu menyenangkan dan terbayarkan. Semoga.


(Diam-diam Patah, Cinta & Kehilangan, hal 21-22)

Senin, 25 Juli 2016

A Brief Guide on How to Overcome Creative Blocks

It doesn’t matter what you are trying to become better at, if you only do the work when you’re motivated, then you’ll never be consistent enough to become a professional. (p15)

Approaching your goals - whatever they are - with the attitude of a professional isn’t easy. In fact, being a pro is painful. (p16)

Becoming a pro doesn’t mean you’re a workaholic. It means that you’re good at making time for what matters to you - especially when you don’t feel like it - instead of playing the role of the victim and letting life happen to you. (p17)

Setting limits for yourself - whether that involves the time you have to work out, the money you have to start a business, or the number of words you can use in a book - often delivers better results than “keeping your options open.” (p21)

Once you know your constraints, you can start figuring out how to work with them. (p23) We all have constraints in our lives. The limitations just determine the size of the canvas you have to work with. What you paint on it is up to you. (p23)

The power of a ritual, is that it provides a mindless way to initiate your behavior. It makes starting your habits easier and that means following through on a consistent basis is easier. (p26)

when the world presents you with something interesting or frustrating or curious, choose to do something about it. Choose to be a creator.(p33) Creating something is the perfect way to avoid wasting the precious moments that we have been given. To contribute, to create, to chip in to the world around you and to add your line to the world’s story - that is a life well lived.(p33)

What will you create today?

~Mastering Creativity, James Clear

Selasa, 31 Mei 2016

Sepatu Orang Lain

Seperti postingan yang lalu, yang kepengen ngaplot gambar tapi resolusinya kecil padahal gambarnya penuh tulisan. Jadi saya tulis ulang disini:


"Kita hanya mampu membeli tas tangan seharga 500ribu rupiah. Ketika kawan kita membeli tas tangan seharga 5juta rupiah, kita bilang kawan kita berlebihan. Padahal ia belanja tak pakai uang kita. Ternyata ia sudah berhemat untuk tidak membeli tas seharga 40juta rupiah yang sanggup ia beli.

Kita hanya mampu hidup selalu di dekat suami. Ketika kawan kita berpisah jarak dan waktu dengan suaminya, kita bilang kawan kita gegabah. Kita bilang ia menggadaikan rumah tangga demi materi. Ternyata ia tetap hidup rukun dan bahagia dalam perjuangan rumah tangganya.

Kita hanya mampu menjadi ibu rumah tangga. Ketika kawan kita memilih bekerja sebagai pegawai, kita bilang ia menggadaikan masa depan anak. Ternyata ia bangun lebih pagi dari kita, belajar lebih banyak dari kita, berbicara lebih lembut pada anaknya, dan berdoa lebih khusyuk agar anak-anaknya selalu berbahagia dan sehat selalu.

Kita hanya mampu mengatur uang belanja 1 juta rupiah sebulan. Ketika kawan kita bercerita pengeluaran belanja bulanannya sampai 6juta rupiah, kita bilang ia boros. Padahal ia tak pernah berhutang pada kita, pinjam uang pun tidak. Ternyata ia sedekah lebih banyak dari uang belanjanya. Ternyata ia selalu rutin berdana kepada mereka yang membutuhkan.

Siapa yang rugi? Kita. Belum-belum sudah menilai. Bisa jadi malah buruk sangka. Padahal kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya orang lain hadapi, orang lain lakukan, di luar sepengetahuan kita.

Jangan mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita. Jangan pernah mengukur kehidupan orang lain dengan ukuran hidup kita. Rawan tak tepat.

Jangan pernah."

*ditulis tanpa perubahan dari gambar yang dilihat dari path agri, seorang (calon) mamah muda 

Rabu, 09 Maret 2016

When The Love Is Real

When your love is real, it's hard to just stop loving someone...even after they've proven to you over and over again that they don't deserve your love.

That's what makes  breaking up so hard to do. You know it's time to go, but love just won't let you walk away. Real love wants you to give them another chance, to try just one more time to make it work, even when deep down inside you know. . . . he/she'll never change.


~Reflections of a man, Mr.amari Soul

Minggu, 06 Maret 2016

Cinta dan Keberanian

Di antara kita ada yang takut untuk melakukan sesuatu ,karena dia berani menanggung risiko dan kemungkinan-kemungkinan buruk, agar semua itu tidak terjadi pada orang-orang yang ia sayangi. Di antara kita ada berani melakukan sesuatu, karena dia takut menanggung risiko dan kemungkinan-kemungkinan buruk , agar semua itu tak terjadi pada dirinya sendiri.

Betapa tipis antara ketakutan dan keberanian. Betapa terbatas kemampuan manusia untuk melihatnya.

Di antara kita ada yang takut karena dia menyadari apa yang dilakukannya akan merendahkan dan menghinakan orang lain. Di antara kita ada yang berani karena dia tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya telah merendahkan dan menghinakan orang lain.

Di antara kita ada yang terlihat takut. Di antara kita ada yang terlihat berani. Di antara kita ada yang memalsukan dan salah mengerti kedua-duanya.

Di antara kita ada kemungkinan-kemungkinan yang kadang-kadang tak bisa kita jelaskan kepada dunia. Di antara kita ada yang buta untuk melihat banyak kemungkinan: Mereka yang selalu gagal memandang dunia dari seribu jendela yang berbeda. Di antara kita banyak yang tidak tahu bahwa ketakutan sering kali adalah perasaan yang kuat. Dan, keberanian sering kali adalah perasaan yang lemah.

Di antara kita ada yang dilahirkan sebagai pemberani. Di antara kita ada yang dilahirkan sebagai pengecut. Tetapi, hidup bukan tentang sebagai apa kita dilahirkan, melainkan bagaimana kita bertindak dan sebagai siapa nanti kita mati. Sementara hidup adalah serangkaian pembuktian, perjuangan yang tak pernah selesai . . . .

Selalu ada orang yang mencintaimu. Selalu ada orang yang membenci dan ingin melihatmu menderita. Tapi tak ada yang bisa mengubah hidupmu selain dirimu sendiri. Sementara, para pengecut adalah mereka yang menghabiskan hidupnya untuk melayani para pembenci, para pemberani adalah mereka yang menghabiskan waktunya untuk terus mencintai.


Maka, barangkali benar kata orang-orang suci,"Cinta adalah semacam keberanian"

~Jodoh, Fahd Pahdepie 

Kamis, 14 Januari 2016

Tentang Tanya

Sebenernya kepengen ngaplot gambar yang dulu banget pernah dikirim lewat WA, tapi sayangnya resolusinya kecil padahal gambarnya penuh tulisan. Jadi saya tulis ulang disini:


"yang kita tahu, mereka belum menikah sehingga kita merasa berhak bertanya mengapa mereka belum menikah.. .
yang kita tidak tahu, mereka sedang memperjuangkan sesuatu.
yang kita lupa, jodoh adalah misteri yang ditulis sendiri oleh Tuhan.

yang kita tahu, mereka belum dikaruniai anak sehingga kita merasa berhak bertanya mengapa mereka belum memiliki keturunan.. .
yang kita tidak tahu, mereka sedang memperjuangkan sesuatu.
yang kita lupa, rezeki berupa anak adalah pemberian Tuhan, jika Tuhan belum berkehendak maka sekuat apapun manusia berusaha, jika memang belum waktunya, ya belum waktunya.

Satu hal pasti menjadi dewasa adalah manusia cenderung menyimpan masalah sendiri, manusia akan cenderung menutup emosi mereka dengan khalayak. Manusia akan cenderung menampakkan hal yang baik-baik saja. Itulah perubahan, apabila ketika bayi manusia bebas menangis depan umum, semakin tua hal tersebut menjadi tidak mungkin terjadi bukan?

Semakin tua, manusia akan semakin menutupi apa yang cenderung membuatnya sedih dan menampakkan kondisi baik-baik saja. Seharusnya ini cukup menjadi bekal untuk berhenti bertanya mengenai takdir Tuhan.

Kita tidak tau kondisi yang sedang dialami lawan bicara kita.. . hingga kita sampai pada fase tersebut. Banyak orang berdalih bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut ya anggap saja doa. 

Tapi banyak pula yang lupa bahwa doa yang paling tulus adalah mendoakan diam-diam."

*ditulis tanpa perubahan dari gambar yang dikirimkan seorang kawan via wa

Jumat, 18 Desember 2015

Jalan Hidup

Perjalanan hidup memang laksana labirin. Di pangkal jalan, titik tujuan itu terlihat begitu gamblang di kejauhan. Jalan lempang terbentang. Engkau berjalan dan berjalan, melangkah penuh keyakinan, lurus menuju tujuan. Langkah demi langkah mengalir lancar, titik tujuan terlihat makin dekat, makin nyata.

Tapi sekonyong-konyong dihadapanmu melintang dinding tak tertembus. Jalanmu terhalang. Kau harus berbelok, tak ada pilihan.

Engkau berjalan semakin jauh. Belokan lagi. Lalu belokan lagi. Belokan demi belokan, tak ada habisnya. Tak ada jalan lurus, ternyata. Semakin dijalani, jalan semakin berliku. Semakin dipandang, titik tujuan semakin mengabur. Labirin membawamu berkeliling semua penjuru, melewati negeri-negeri, dengan rute seperti benang kusut. Engkau berputar-putar, seperti takkan pernah sampai. Seiring waktu, semakin engkau bertanya: Apakah itu tujuan yang sebenar-benarnya? Masih perlukah perjuangan untuk mencapainya? Masih pentingkah tujuan itu?


Tapi perjalanan adalah realita pahit. Ada perpisahan, ada janji dan harapan, ada derita air mata rindu yang disembunyikan, ada pula mimpi-mimpi yang berujung pada kekecewaan. Ketika sang musafir terus melangkah bersama sang surya keliling dunia, berapa menit dalam harinya dia teringat akan kesabaran sebuah penantian dirumahnya yang sederhana? Ketika dia merambah untuk belajar ilmu-ilmu baru di negeri-negeri jauh, seberapa banyak sebenarnya dia mengenali dirinya sendiri? Ketika dia mengecap diri sebagai yang paling berani, seberapa kuat dia mengakui kerapuhan hatinya menghadapi ketakutan akan ketidakpastian masa depan?

~Titik Nol, Agustinus Wibowo

Sabtu, 18 Juli 2015

Someone like you...

There's something in this world that nobody has seen yet
It's something gentle and very sweet
And if you had been able to put your eyes on it, then you would yearn for it

That's why the world has hidden it
To make sure that not just anyone can get their hands on it
 but at some point, someone will find it
That one person who is supposed to find it is also the one who will able to find it

That's just how it is

~Toradora, Yuyuko Takemiya

Kamis, 02 Juli 2015

Different Drummers

If you do not want what I want,
please try not to tell me that my want is  wrong.

or if my beliefs are different from yours,
at least pause before you set out to correct them.

or if my emotion seems less or more intense than yours,
given the same circumstances,
try not to ask me to feel other than I do.

or if I act,
or fail to act,
in the manner of your design for action,
please let me be.

I do not, for the moment at least, ask you to understand me.
That will come only when you are willing to give up trying to change me into a copy of you.

If you will allow me any of my own wants, or emotions, or beliefs, or
actions, then you open yourself to the possibility that some day these ways  of mine might not seem so wrong, and might finally appear as right-for me.

To put up with me is the first step to understanding me.
Not that you embrace my ways as right for you, but that you are no longer irritated or disappointed with me for my seeming waywardness.

And one day, perhaps, in trying to understand me, you might come to prize my differences, and, far from seeking to change me, might preserve and even cherish those differences.

I may be your spouse, your parent, your offspring, your friend, your colleague.
But whatever our relation, this I know:
"You and I are fundamentally different and both of us have to march to our own drummer."


~Please Understand Me II, David Keirsey


Minggu, 13 April 2014

Seperti Sungai


"Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu karena semua cinta di dunia ini seperti sungai berbeda-beda yang akhir'a mengalir menuju danau yang sama. Semua bertemu dan kemudian menjadi satu cinta yang menjadi hujan dan memberkati Bumi.

Aku mencintaimu seperti sungai yang menciptakan keadaan-keadaan yang tepat bagi pohon-pohon, semak-semak dan bunga-bunga untuk tumbuh dan berkembang di pinggirannya. Aku mencintaimu seperti sungai yang memberikan air pada haus dan mengantar orang-orang ke mana pun tempat yang mereka tuju. 

Aku mencintaimu seperti sungai yang memahami bahwa ia harus mengalir ke arah berbeda saat melewati air terjun dan beristirahat di cekungan cekungan rendah. Aku mencintaimu karena kita semua lahir di tempat yang sama, pada sumber yang sama, sehingga sumber air kita selalu tersedia. Jadi, saat kita merasa lemah, kita hanya perlu menunggu sebentar. Musim semi kembali, dan salju musim dingin meleleh serta memberi kita energi baru.

Aku mencintaimu seperti sungai yang dimulai dengan tetesan-tetesan sepi di pegunungan, lalu pelan-pelan membesar dan bergabung dengan sungai-sungai lain sampai pada satu titik, sungai itu dapat mengalir melewati hambatan apa pun untuk mencapai tujuannya.

Aku menerima cintamu dan memberikan cintaku. Bukan cinta lelaki kepada perempuan, bukan cinta ayah kepada anak, bukan cinta Tuhan kepada umat-Nya, melainkan cinta tanpa nama dan tanpa penjelasan, seperti sungai yang tidak bisa menjelaskan kenapa ia mengikuti alur tertentu dan hanya terus mengalir. Cinta yang tidak meminta dan memberikan apa-apa; sungai yang hanya hadir, apa adanya. Aku tidak akan pernah jadi milikmu dan kau juga tidak akan pernah jadi milikku; meski begitu, jujur kukatakan:

Aku mencintaimu, aku mencintaimu, dan aku mencintaimu."  

~Aleph, Paulo Coelho

Kamis, 19 September 2013

Dengarkan Aku


Kalau aku minta kamu dengarkan
dan kamu malah menasihati aku,
kamu tidak memberikan apa yang kuminta!

Kalau aku minta kamu dengarkan,
dan kamu malah mengatakan mengapa?
aku seharusnya tidak merasakan seperti itu.
Kamu menginjak-nginjak perasaanku!

Kalau aku minta kamu dengarkan,
dan kamu malah merasa punya sesuatu untuk mengatasi masalahku,
(walaupun tampaknya aneh) kamu sungguh mengecewakan aku!

Dengarlah!!
Yang kuminta hanyalah agar kamu mendengarkan.
Jangan bicara atau berbuat,
Dengarkan saja.


~The 7 Habits of Highly Effective Teens, Sean Covey

Minggu, 09 Juni 2013

Pahlawan Kebangkitan



”Ibarat kehidupan manusia, ada masa kelahiran, tumbuh, dewasa, tua dan akhirnya mati. Demikian pula dengan organisasi termasuk negara, bahkan peradaban. Dalam sejarah peradaban Islam, ada masa kebangkitan, kejayaan dan keruntuhan”

Kekuatan utama yang menggerakkan masyarakat pada masa kebangkitan yaitu kecemasan. Inilah mata air yang memberikan energi untuk bergerak dan  bergerak, melangkah tertatih-tatih sembari jatuh dan bangun, meraba dalam ketidakpastian.
Namun terus bergerak.

Kecemasan muncul karena kesadaran akan adanya jarak yang terbentang jauh antara idealisme dan realitas, antara harapan dan kenyataan.
Tetapi ...
Tidak semua orang menyadari kesenjangan tersebut.
Baginya semuanya baik-baik saja, tidak ada masalah dan akhirnya bersikap diam dan menikmati kondisi yang ada. Orang seperti ini biasanya orang-orang awam, tidak akan bergerak sampai arus besar datang menghanyutkan mereka.

Mereka yang menyadari adanya permasalahan akan bergerak, melakukan perbaikan. Begitulah  kita menyaksikan para Nabi, Rasul dan para sahabatnya yang setia.
Mereka merasakan kesenjangan itu, masalah itu, mereka cemas, bergerak
melakukan perubahan, berhasil .... Dan akhirnya tercatat dalam sejarah peradaban
dengan tinta emas sebagai mujahid.

Jika kecemasan merupakan kekuatan utama yang menggerakkan masa kebangkitan,
maka obsesi kesempurnaan adalah kekuatan utama yang menggerakkan masa kejayaan.
Kepahlawanan zaman kejayaan didominasi oleh semangat perfeksionisme dan inovasi.

Titik tengah antara idealisme yang tidak realistis dengan realisme yang terlalu pragmatis adalah .... OPTIMISME. Para pejuang sejati bersikap optimis, merasa tenang karena berjuang di bawah bendera Allah. Mereka percaya pasti akan mendapatkan kemenangan walaupun tidak mereka saksikan. Mereka percaya, berjuang saja sudah merupakan kemenangan, atas rasa takut, sikap pengecut, cinta dunia dan diri sendiri.

Perjuangan mutlak dibutuhkan dalam menjalani hidup kita ini.
Apabila ALLAH membolehkan kita hidup tanpa hambatan ,itu hanya akan membuat kita lemah.
Kita tidak akan sekuat ini.
Tidak pernah bisa se-Sukses ini.


(from Power Point by Annis Matta)