Perjalanan hidup
memang laksana labirin. Di pangkal jalan, titik tujuan itu terlihat begitu
gamblang di kejauhan. Jalan lempang terbentang. Engkau berjalan dan berjalan,
melangkah penuh keyakinan, lurus menuju tujuan. Langkah demi langkah mengalir
lancar, titik tujuan terlihat makin dekat, makin nyata.
Tapi
sekonyong-konyong dihadapanmu melintang dinding tak tertembus. Jalanmu
terhalang. Kau harus berbelok, tak ada pilihan.
Engkau berjalan
semakin jauh. Belokan lagi. Lalu belokan lagi. Belokan demi belokan, tak ada
habisnya. Tak ada jalan lurus, ternyata. Semakin dijalani, jalan semakin
berliku. Semakin dipandang, titik tujuan semakin mengabur. Labirin membawamu
berkeliling semua penjuru, melewati negeri-negeri, dengan rute seperti benang
kusut. Engkau berputar-putar, seperti takkan pernah sampai. Seiring waktu,
semakin engkau bertanya: Apakah itu tujuan yang sebenar-benarnya? Masih
perlukah perjuangan untuk mencapainya? Masih pentingkah tujuan itu?
Tapi perjalanan
adalah realita pahit. Ada perpisahan, ada janji dan harapan, ada derita air
mata rindu yang disembunyikan, ada pula mimpi-mimpi yang berujung pada
kekecewaan. Ketika sang musafir terus melangkah bersama sang surya keliling
dunia, berapa menit dalam harinya dia teringat akan kesabaran sebuah penantian
dirumahnya yang sederhana? Ketika dia merambah untuk belajar ilmu-ilmu baru di
negeri-negeri jauh, seberapa banyak sebenarnya dia mengenali dirinya sendiri?
Ketika dia mengecap diri sebagai yang paling berani, seberapa kuat dia mengakui
kerapuhan hatinya menghadapi ketakutan akan ketidakpastian masa depan?
~Titik Nol, Agustinus Wibowo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar