Jumat, 18 Desember 2015

Jalan Hidup

Perjalanan hidup memang laksana labirin. Di pangkal jalan, titik tujuan itu terlihat begitu gamblang di kejauhan. Jalan lempang terbentang. Engkau berjalan dan berjalan, melangkah penuh keyakinan, lurus menuju tujuan. Langkah demi langkah mengalir lancar, titik tujuan terlihat makin dekat, makin nyata.

Tapi sekonyong-konyong dihadapanmu melintang dinding tak tertembus. Jalanmu terhalang. Kau harus berbelok, tak ada pilihan.

Engkau berjalan semakin jauh. Belokan lagi. Lalu belokan lagi. Belokan demi belokan, tak ada habisnya. Tak ada jalan lurus, ternyata. Semakin dijalani, jalan semakin berliku. Semakin dipandang, titik tujuan semakin mengabur. Labirin membawamu berkeliling semua penjuru, melewati negeri-negeri, dengan rute seperti benang kusut. Engkau berputar-putar, seperti takkan pernah sampai. Seiring waktu, semakin engkau bertanya: Apakah itu tujuan yang sebenar-benarnya? Masih perlukah perjuangan untuk mencapainya? Masih pentingkah tujuan itu?


Tapi perjalanan adalah realita pahit. Ada perpisahan, ada janji dan harapan, ada derita air mata rindu yang disembunyikan, ada pula mimpi-mimpi yang berujung pada kekecewaan. Ketika sang musafir terus melangkah bersama sang surya keliling dunia, berapa menit dalam harinya dia teringat akan kesabaran sebuah penantian dirumahnya yang sederhana? Ketika dia merambah untuk belajar ilmu-ilmu baru di negeri-negeri jauh, seberapa banyak sebenarnya dia mengenali dirinya sendiri? Ketika dia mengecap diri sebagai yang paling berani, seberapa kuat dia mengakui kerapuhan hatinya menghadapi ketakutan akan ketidakpastian masa depan?

~Titik Nol, Agustinus Wibowo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar