Jumat, 05 Januari 2018

Mom

Sebuah tulisan Andika Thaselia P, yang diposting kembali.


Before you ask,

No. My mum doesn't really cook. I usually eat "masakan mbaknya".
No. My mum doesn't go to the market to buy some for today's cooking.
No. My mum doesn't do gardening.
No. My mum never packed my lunch since my junior high school.
And,
No. I'm not sad, I'm never sad. On the contrary, I'm always happy, and most of all, I'm proud.

Every mother in the world has her own way to make her child(ren) happy, safe, and healthy. I'm sticking with that. Ada ibu yang mendedikasikan waktunya penuh untuk keluarga. Ada ibu yang sambil mengurus keluarganya, beliau punya usaha sampingan di rumah. Ada ibu yang disamping mengurus keluarga, beliau juga berkarir di kantor. Tidak ada yg lebih baik, karena semuanya terbaik. Semuanya memberikan usaha terbaiknya untuk keluarga masing-masing.

Masih ingat dulu bagaimana beberapa teman saya memandang heran ketika saya dengan santainya bilang hal-hal seperti berikut : "Ibuku jarang masak sendiri", "Ibuku baru pulang kantor jam 2", dan yang satu ini yang biasanya paling bisa bikin mereka mikir "like, whaaaattt?????!!!!!!" : "mudiknya lebaran kedua, lebaran pertama Ibuku ambil shift kerja".

Beberapa dari teman-teman saya tadi pasti pernah punya anggapan bahwa saya anak yg kurang kasih sayang, kurang pengawasan orang tua, atau mungkin bisa jadi, "anaknya mbak"? Maaf ya jadi suudzon, tapi saya tahu salah satu dari hal-hal tadi pernah setidaknya melintas di pikiran mereka.

Dan jawabannya adalah tidak. Nope, it's a huge NO. Saya tidak kurang kasih sayang, saya tidak kurang pengawasan, saya tidak dan bukan "anaknya mbak". Yang saya rasakan sama saja seperti anak-anak di keluarga (Alhamdulillah) bahagia lainnya.

Saya sering mendengar pendapat dan pandangan orang, bahwa wanita yang bekerja (dan lalu jadi workaholic) itu : lebih mengutamakan dunia lah, lebih economics oriented lah (which is almost the same with matre), "dikira anaknya cuma butuh duit apa???" lah, "nggak becus jadi wanita!!!!" lah, menyalahi kodrat lah, "nanti sampe rumah udah capek, kapan ngurus anak sama suami???" lah. Lelahhhhh.

Are these true? Are these even close to the reality?

Saya disini tidak akan membahas tentang jurnal ilmiah, pendekatan psikologi, sudut pandang sosiologi, atau apapun pendekatan ilmiah dari bidang ilmu terkait. Saya hanya ingin bicara tentang apa yang ada dalam pikiran saya, opini saya.

Woman who work bears responsibility in raising kids twice as man do. Is that correct? For some people. To me, man or woman bears the same exact responsibility in raising kids. "Saru"nya, bikin anak kan berdua, masa iya yang tanggung jawab lebih cuma dibebankan ke satu orang?

Dear society. A working woman is not always an object to be blame. "Not always, Dik?" Yes, not always. "So, there's some of it to be blame then?" Yep. Mereka yang tidak bisa memposisikan diri, menurut saya, patut dinasihati. Blaming is the most superior advice, maybe not the best, but sometimes it works. Bagi mereka yang egois, tidak mau mendengar, dan keras kepala.

Dearest woman. Let us be smart, and wise. Boleh kok kita kerja, boleh kok pursue our dreams, boleh kok jadi stay-at-home mother, boleh kok buka usaha di rumah. Yang tidak boleh adalah egois. Egois, mementingkan urusan kerja dan tidak mau tahu perkembangan anak dan rumah tangganya, atau orang tua dan saudaranya bagi yang belum berkeluarga. Egois, tidak mau usaha atau bekerja membantu suami padahal untuk kebutuhan sehari-hari gaji suami saja sangat riskan untuk diandalkan.

"Terus kamu encourage yang mana Dik? Jadi bingung :("
Encourage the right one. Kalau seorang wanita disamping berkarir di kantor juga bisa menjaga quality time dan perannya dalam keluarga, why not encourage her? Kalau seorang wanita berdedikasi full-time untuk mengurus rumah tangganya dan it works splendidly, why not encourage her? Kalau seorang wanita bikin usaha di rumahnya karena itu bisa bikin dia punya banyak waktu bersama keluarga tapi tetap bisa menambah penghasilan rumah tangga, why not encourage her?

Dear society. There's no such as full-time mother or part-time mother. A woman, once she gave birth to a child, she's a mother. "Ibu" itu bukan profesi. "Ibu" adalah dedikasi. "Ibu" adalah bentuk dari apresiasi. "Ibu" adalah penghormatan.

Dearest woman. Kalau seorang wanita sudah berdedikasi, sudah diapresiasi, dan sudah dihormati, maka bijaksanalah dalam melangkah. Jagalah amanah yang telah diberikan kepada Anda. "How, Dik?" Menjaga kepercayaan, menjaga amanah, macam-macam jalannya. Every woman knows her own path. Tapi perlu diingat bahwa tidak ada jalan yang dibuat khusus untukmu. Di jalan itu kamu akan bertemu dengan pengguna jalan lainya. Jalan yang dipakai boleh sama, tapi jalur yang ditempuh? God knows. Maka banyak-banyaklah belajar.

In the end, saya belajar dari ibu saya, dari hidup saya selama ini, dari ibu-ibu yang lain, dan dari anak-anak yang lain, bahwa hal yang baik itu relatif. Good thing just flow and makes everything complete.

Jumat, 17 November 2017

Menyalahkan Orang Lain

Yang dilakukan Nabi Adam ketika 'didepak' dari Surga bukan menyalahkan Iblis, tapi dia berdoa kepada Allah dengan penuh penyesalan. Anehnya, doanya nabi Adam bukan 'mengutuk Iblis' tapi dia malah bilang dia yang salah. Ini kan keren banget. Doa Nabi Adam dalam surat Al-Araf: 23 dalam kontekstual doa tadi, gak ada satupun kalimat bahwa Nabi Adam menyalahkan Iblis, "رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ" "Dzholamna=saya telah dzolim", nyalahin diri sendiri. Walaupun pada kenyataannya Nabi Adam digoda sama Iblis untuk mendekati pohon Khuldi dan makan buahnya, tapi dia nggak nyalahin Iblis tuh... 


Coba cek juga kisahnya Nabi Yunus ketika ditelan hiu raksasa di laut lepas, apa yang dilakukan? BERDOA. Apa doanya? Surat Al-Anbiya ayat 87 "لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ" Dalam doa Nabi Yunus tersebut, kata yang digunakan sangat jelas, "Innii kuntu minadzolimin=sungguh aku termasuk orang-orang dzolim". Gak nyalahin hiu. Nabi Yunus sadar banget, ditelannya dia oleh ikan hiu raksasa adalah teguran Allah karena kurang sabar & mudah marah menghadapi kaumnya yang kafir. Tapi walaupun ditelan hiu, Nabi Yunus gak nyalahin hiu. Dia tetep nyalahin dirinya sendiri. Leadershipnya keren banget.


Coba tengok juga kisah Nabi Musa ketika 'nonjok' salah satu kaum fir'aun & gak sengaja buat dia mati. Apa yang dilakukan? BERDOA. Surat Al-Qashash ayat 16, "رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ" Jelas! "Dzolamtu nafsii = aku telah menzolimi diriku sendiri". Nyalahin diri sendiri, bukan orang lain. 


Nah, Nabi-Nabi aja yang deket sama Allah, kalau terjadi sesuatu pada dirinya, mereka tidak menyalahkan orang lain atau takdir. Kita??

Banyak-banyak istighfar. Banyak-banyak taubat. Terlalu banyak dosa yang kita perbuat. Terlalu sering kita nyalahin orang lain, padahal yang salah adalah kita. 

((Repost status FB Dewa Eka Prayoga))

Jumat, 10 November 2017

" In order to understand, I destroyed myself "
             -Fernando Pessoa 

Kamis, 13 Juli 2017

Kamis, 01 Juni 2017

Bahasa adalah milik semua orang, namun yang mampu memaknai kata-kata secara sempurna hanya dirimu. Itu artinya, kata yang sama bahkan bisa dimaknai berbeda oleh orang yang berbeda. Ia seperti bagaimana seseorang memaknai sebuah tempat, segala sesuatunya tergantung pada rasa.

~diantara hujan, dingin, dan keinginan untuk pergi

Senin, 22 Mei 2017

Menentukan Arah

((Sebuah tulisan menarik yang ditemukan dari halaman muka line))

Mungkin menurutmu, kamu termasuk orang-orang itu. Mereka yang disukai karena capaian akademiknya oke, karirnya kece, passion-nya menuntun pada prestasi, aktivitas sosialnya menginspirasi, keluarganya harmonis, dan seterusnya.

"Hebat! Keren! Luar bisa! Inspiratif!" begitu kamu seringkali dipuji.

Namun, sampai kamu menunjukkan perspektif ideologimu di ruang publik, kamu tidak lagi hebat buat mereka. Sekalinya kamu bersuara soal agama, utamanya ketika prinsipmu tidak sesuai dengan narasi (media) arus utama, segala kebaikan di atas langsung sirna.

"Sia-sia kamu belajar sampai ke luar negeri. Pikirannya masih sempit!"

"Saya pikir dia toleran soalnya sering bantuin semua lapisan masyarakat. Ternyata akhi-akhi fans Erdogan!"

"Katanya dia banyak dapat penghargaan internasional? Kok kemarin dukung aksi itu sih?"

"Ya ampun, ternyata si itu simpatisannya Ustad anu lho. Kemarin dia posting fotonya di medsos. Jadi gak ngefans deh."

. . .

Setinggi apapun gelar pendidikan kamu dapat dengan bermartabat, ketika kamu menanyakan alasan sahabatmu yang melepas jilbab, kamu akan dianggap tidak berpikiran terbuka.

Seluas apapun kamu bergaul dengan teman lintas agama, ketika kamu menanyakan alasan temanmu yang berpindah agama, kamu akan dinilai tidak menerimanya apa adanya.

Sebanyak apapun prestasi mutakhir kamu peroleh di bidang profesionalmu, ketika kamu berbincang perihal penerapan nilai-nilai agama untuk kehidupan, kamu akan disebut fundamentalis yang kolot.

. . .

Maka kamu memilih untuk diam. Untuk tidak banyak berkomentar pada setiap permasalahan umat, terlebih yang melibatkan agama. Untuk menjadi netral demi tidak dicap konservatif, fundamentalis, apalagi pro teroris.

Kamu memilih menyimpan dalam-dalam perihal agamamu sebagai urusan spiritual yang hanya tentangmu dan Tuhanmu. Kamu yakin ini yang terbaik, sebab dengan menarik agama dari ruang publik, kamu akan hidup damai.

Padahal, kamu hanya pura-pura damai. Pura-pura menutup mata kalau keadaan di luar baik-baik saja. Tidak berani bersuara tapi merasa dengan begitu menjadi pahlawan.

Padahal kamu tahu, Nabimu tidak diam saja. Nabimu tidak hanya menyimpan urusan agamanya dalam bilik-bilik munajat spiritual personalnya.

Nabimu menggerakkan manusia. Mengaplikasikan nilai-nilai agama yang diyakininya sebagai solusi dalam banyak aspek kehidupan. Nabimu menyuarakan prinsipnya, dan tidak takut sekalipun harus dimusuhi, bahkan terancam dibunuh masyarakat arus utama.

Tapi ketakutanmu toh tidak perlu sebesar itu. Hanya pada popularitas yang hilang, pujian yang berubah cacian, atau kehilangan pekerjaan lah... kamu merasa takut.

Bahkan, kamu pun takut untuk belajar agama lebih rajin. "Yang biasa-biasa saja lah. Nanti dikira fanatik!" katamu.

Padahal, Nabi yang katamu teladan utamamu itu begitu mengutamakan urusan agama dalam hidupnya. Padahal, bukankah keyakinan keagamaanmu tidak ada apa-apanya dibanding Nabimu itu, hingga pada setiap ayat-Nya, kamu perlu penjelasan ilmiah terlebih dahulu?

Jadi jika hari ini ketakutan-ketakutan "duniawi" itu masih menjadikanmu semakin tidak percaya diri dengan agamamu di ruang publik, coba tengok dirimu. Apakah ilmu itu yang kian pudar, atau iman itu yang tidak pernah ada?

(( Esty D I ))

Jumat, 12 Mei 2017

Kontemplasi Malam

Komunikasi yang buruk,
maksud yang tidak tersampaikan dengan baik,
kenapa bisa terjadi?
Mungkin bukan persoalan jarak,
mungkin bukan perkara perasaan yang tidak lagi peka,
mungkin juga bukan karena pemilihan katanya yang salah.

Sebab bisa jadi masih ada ego yang tinggi,
ada prasangka yang sudah jauh lebih dulu mendahului,
ada hati yang tidak lagi menjadi khusyu.

Jangan-jangan
banyak doa yang tidak sampai kepada yang dituju,
penuh dosa hingga memberatkan jalan.

Hati-hati loh nona manis,
jangan sampai salah memperbaiki diri.