Sebuah tulisan Andika Thaselia P, yang diposting kembali.
Before you ask,
No. My mum doesn't really cook. I usually eat "masakan mbaknya".
No. My mum doesn't go to the market to buy some for today's cooking.
No. My mum doesn't do gardening.
No. My mum never packed my lunch since my junior high school.
And,
No. I'm not sad, I'm never sad. On the contrary, I'm always happy, and most of all, I'm proud.
Every mother in the world has her own way to make her child(ren) happy, safe, and healthy. I'm sticking with that. Ada ibu yang mendedikasikan waktunya penuh untuk keluarga. Ada ibu yang sambil mengurus keluarganya, beliau punya usaha sampingan di rumah. Ada ibu yang disamping mengurus keluarga, beliau juga berkarir di kantor. Tidak ada yg lebih baik, karena semuanya terbaik. Semuanya memberikan usaha terbaiknya untuk keluarga masing-masing.
Masih ingat dulu bagaimana beberapa teman saya memandang heran ketika saya dengan santainya bilang hal-hal seperti berikut : "Ibuku jarang masak sendiri", "Ibuku baru pulang kantor jam 2", dan yang satu ini yang biasanya paling bisa bikin mereka mikir "like, whaaaattt?????!!!!!!" : "mudiknya lebaran kedua, lebaran pertama Ibuku ambil shift kerja".
Beberapa dari teman-teman saya tadi pasti pernah punya anggapan bahwa saya anak yg kurang kasih sayang, kurang pengawasan orang tua, atau mungkin bisa jadi, "anaknya mbak"? Maaf ya jadi suudzon, tapi saya tahu salah satu dari hal-hal tadi pernah setidaknya melintas di pikiran mereka.
Dan jawabannya adalah tidak. Nope, it's a huge NO. Saya tidak kurang kasih sayang, saya tidak kurang pengawasan, saya tidak dan bukan "anaknya mbak". Yang saya rasakan sama saja seperti anak-anak di keluarga (Alhamdulillah) bahagia lainnya.
Saya sering mendengar pendapat dan pandangan orang, bahwa wanita yang bekerja (dan lalu jadi workaholic) itu : lebih mengutamakan dunia lah, lebih economics oriented lah (which is almost the same with matre), "dikira anaknya cuma butuh duit apa???" lah, "nggak becus jadi wanita!!!!" lah, menyalahi kodrat lah, "nanti sampe rumah udah capek, kapan ngurus anak sama suami???" lah. Lelahhhhh.
Are these true? Are these even close to the reality?
Saya disini tidak akan membahas tentang jurnal ilmiah, pendekatan psikologi, sudut pandang sosiologi, atau apapun pendekatan ilmiah dari bidang ilmu terkait. Saya hanya ingin bicara tentang apa yang ada dalam pikiran saya, opini saya.
Woman who work bears responsibility in raising kids twice as man do. Is that correct? For some people. To me, man or woman bears the same exact responsibility in raising kids. "Saru"nya, bikin anak kan berdua, masa iya yang tanggung jawab lebih cuma dibebankan ke satu orang?
Dear society. A working woman is not always an object to be blame. "Not always, Dik?" Yes, not always. "So, there's some of it to be blame then?" Yep. Mereka yang tidak bisa memposisikan diri, menurut saya, patut dinasihati. Blaming is the most superior advice, maybe not the best, but sometimes it works. Bagi mereka yang egois, tidak mau mendengar, dan keras kepala.
Dearest woman. Let us be smart, and wise. Boleh kok kita kerja, boleh kok pursue our dreams, boleh kok jadi stay-at-home mother, boleh kok buka usaha di rumah. Yang tidak boleh adalah egois. Egois, mementingkan urusan kerja dan tidak mau tahu perkembangan anak dan rumah tangganya, atau orang tua dan saudaranya bagi yang belum berkeluarga. Egois, tidak mau usaha atau bekerja membantu suami padahal untuk kebutuhan sehari-hari gaji suami saja sangat riskan untuk diandalkan.
"Terus kamu encourage yang mana Dik? Jadi bingung :("
Encourage the right one. Kalau seorang wanita disamping berkarir di kantor juga bisa menjaga quality time dan perannya dalam keluarga, why not encourage her? Kalau seorang wanita berdedikasi full-time untuk mengurus rumah tangganya dan it works splendidly, why not encourage her? Kalau seorang wanita bikin usaha di rumahnya karena itu bisa bikin dia punya banyak waktu bersama keluarga tapi tetap bisa menambah penghasilan rumah tangga, why not encourage her?
Dear society. There's no such as full-time mother or part-time mother. A woman, once she gave birth to a child, she's a mother. "Ibu" itu bukan profesi. "Ibu" adalah dedikasi. "Ibu" adalah bentuk dari apresiasi. "Ibu" adalah penghormatan.
Dearest woman. Kalau seorang wanita sudah berdedikasi, sudah diapresiasi, dan sudah dihormati, maka bijaksanalah dalam melangkah. Jagalah amanah yang telah diberikan kepada Anda. "How, Dik?" Menjaga kepercayaan, menjaga amanah, macam-macam jalannya. Every woman knows her own path. Tapi perlu diingat bahwa tidak ada jalan yang dibuat khusus untukmu. Di jalan itu kamu akan bertemu dengan pengguna jalan lainya. Jalan yang dipakai boleh sama, tapi jalur yang ditempuh? God knows. Maka banyak-banyaklah belajar.
In the end, saya belajar dari ibu saya, dari hidup saya selama ini, dari ibu-ibu yang lain, dan dari anak-anak yang lain, bahwa hal yang baik itu relatif. Good thing just flow and makes everything complete.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar