Tampilkan postingan dengan label Katamu . . .. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Katamu . . .. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Mei 2017

Menentukan Arah

((Sebuah tulisan menarik yang ditemukan dari halaman muka line))

Mungkin menurutmu, kamu termasuk orang-orang itu. Mereka yang disukai karena capaian akademiknya oke, karirnya kece, passion-nya menuntun pada prestasi, aktivitas sosialnya menginspirasi, keluarganya harmonis, dan seterusnya.

"Hebat! Keren! Luar bisa! Inspiratif!" begitu kamu seringkali dipuji.

Namun, sampai kamu menunjukkan perspektif ideologimu di ruang publik, kamu tidak lagi hebat buat mereka. Sekalinya kamu bersuara soal agama, utamanya ketika prinsipmu tidak sesuai dengan narasi (media) arus utama, segala kebaikan di atas langsung sirna.

"Sia-sia kamu belajar sampai ke luar negeri. Pikirannya masih sempit!"

"Saya pikir dia toleran soalnya sering bantuin semua lapisan masyarakat. Ternyata akhi-akhi fans Erdogan!"

"Katanya dia banyak dapat penghargaan internasional? Kok kemarin dukung aksi itu sih?"

"Ya ampun, ternyata si itu simpatisannya Ustad anu lho. Kemarin dia posting fotonya di medsos. Jadi gak ngefans deh."

. . .

Setinggi apapun gelar pendidikan kamu dapat dengan bermartabat, ketika kamu menanyakan alasan sahabatmu yang melepas jilbab, kamu akan dianggap tidak berpikiran terbuka.

Seluas apapun kamu bergaul dengan teman lintas agama, ketika kamu menanyakan alasan temanmu yang berpindah agama, kamu akan dinilai tidak menerimanya apa adanya.

Sebanyak apapun prestasi mutakhir kamu peroleh di bidang profesionalmu, ketika kamu berbincang perihal penerapan nilai-nilai agama untuk kehidupan, kamu akan disebut fundamentalis yang kolot.

. . .

Maka kamu memilih untuk diam. Untuk tidak banyak berkomentar pada setiap permasalahan umat, terlebih yang melibatkan agama. Untuk menjadi netral demi tidak dicap konservatif, fundamentalis, apalagi pro teroris.

Kamu memilih menyimpan dalam-dalam perihal agamamu sebagai urusan spiritual yang hanya tentangmu dan Tuhanmu. Kamu yakin ini yang terbaik, sebab dengan menarik agama dari ruang publik, kamu akan hidup damai.

Padahal, kamu hanya pura-pura damai. Pura-pura menutup mata kalau keadaan di luar baik-baik saja. Tidak berani bersuara tapi merasa dengan begitu menjadi pahlawan.

Padahal kamu tahu, Nabimu tidak diam saja. Nabimu tidak hanya menyimpan urusan agamanya dalam bilik-bilik munajat spiritual personalnya.

Nabimu menggerakkan manusia. Mengaplikasikan nilai-nilai agama yang diyakininya sebagai solusi dalam banyak aspek kehidupan. Nabimu menyuarakan prinsipnya, dan tidak takut sekalipun harus dimusuhi, bahkan terancam dibunuh masyarakat arus utama.

Tapi ketakutanmu toh tidak perlu sebesar itu. Hanya pada popularitas yang hilang, pujian yang berubah cacian, atau kehilangan pekerjaan lah... kamu merasa takut.

Bahkan, kamu pun takut untuk belajar agama lebih rajin. "Yang biasa-biasa saja lah. Nanti dikira fanatik!" katamu.

Padahal, Nabi yang katamu teladan utamamu itu begitu mengutamakan urusan agama dalam hidupnya. Padahal, bukankah keyakinan keagamaanmu tidak ada apa-apanya dibanding Nabimu itu, hingga pada setiap ayat-Nya, kamu perlu penjelasan ilmiah terlebih dahulu?

Jadi jika hari ini ketakutan-ketakutan "duniawi" itu masih menjadikanmu semakin tidak percaya diri dengan agamamu di ruang publik, coba tengok dirimu. Apakah ilmu itu yang kian pudar, atau iman itu yang tidak pernah ada?

(( Esty D I ))

Kamis, 20 April 2017

Karena manusia adalah makhluk yang rumit. Kita percaya dengan kebohongan, meski tahu kalau kebenaran yang bisa menciptakan kebohongan itu. Dan pada akhirnya, yang kita pikirkan tidaklah penting. Tapi apa yang kita lakukan, itulah yang penting. Karena kita hanya perlu mengatakan kebenaran yang paling sederhana.

~Dery

Kamis, 16 Maret 2017

"Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu janganlah buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan."

~Ahmad Mustofa Bisri via Mas Pram

Senin, 13 Maret 2017

" Try open your heart men. You made your life more difficult. Wish you luck :) "

Iya benar, aku tidak kehilangan segalanya, masih ada yang lain. Masih ada kamu. Cukup tiga kalimat dan aku jadi lebih tenang.

~Senin, pukul 1 dini hari. Sambil dengerin lagu pengantar tidur yang kamu kirim, covernya sleepwalking bring me the horizon

Senin, 23 Januari 2017

Sewaktu Dalai Lama ditanya, apakah yang paling membingungkan di dunia ini?

Beliau menjawab: "manusia", karena dia "mengorbankan kesehatannya" hanya "demi uang"; lalu dia "mengorbankan uangnya" demi kesehatan.

Lalu dia "sangat skhawatir" dengan "masa depannya", sampai dia "tidak menikmati masa kini"; akhirnya dia "tidak hidup di masa depan maupun masa kini";

dia "hidup seakan-akan tidak mati" lalu dia "mati" tanpa "benar benar menikmati" apa itu "hidup"

Kamis, 12 Januari 2017

Memaksa (jadi) Baik

Kata ustadz kebaikan kadang harus dipaksa, karena untuk memulainya memang berat. Apalagi nanti akan ada banyak godaan. (Bang Her)

Rasanya seperti saat kamu harus makan pas lagi sakit, makan apapun jadi ga enak. Mulut asem, mual, atau rahangnya yang ga enak-pegel. Kamu lebih suka tidur sebenernya, tapi kenapa tetep makan? Sebab kamu tahu, kamu HARUS makan untuk bisa kembali sehat. Tidak berbeda ketika kamu tahu hati kamu lagi memburuk, beribadah dan melakukan kebaikan-kebaikan lain juga rasanya jadi ga enak. Makanya kamu HARUS MAKSA diri kamu untuk terus melakukannya. Nanti saat hatinya sudah kembali membaik, beribadah dan melakukan kebaikan juga akan jadi lebih mudah. Saat kamu sehat, makan juga tentu terasa menyenangkan bukan? (Raka)

Lebih baik terpaksa masuk surga daripada sukarela masuk neraka, yang penting jangan berhenti mencoba. (Bang Her) 

Minggu, 24 Juli 2016

Perempuan yang baik tidak akan mempersulit maharnya. Sedangkan laki laki yang baik, ia akan memberikan mahar terbaiknya.

~Mas Pram

Selasa, 26 April 2016

Minggu, 20 Desember 2015

Para pendaki yang naik gunung demi sekedar eksistensi publik itu kampungan. mereka kira gunung serupa dengan taman bermain? astagaa, dunia jd sebercanda itu sekarang.

~nchan, dalam sela diantara hening saat menatap langit

Rabu, 02 Desember 2015

"Kita ngga perlu alesan buat jatuh cinta, hanya dengan begitu nantinya kita juga ngga akan punya alesan buat pergi ninggalin dia.."

~om presdir

Rabu, 21 Oktober 2015

Sang Jenderal

WHAT IF THE BIRD WILL NOT SING?

Nobunaga answer: "Kill it"

Hideyoshi answer: "Make it want to sing"

Ieyasu answer: "Wait. Calm and patient is the important think to decide our way. To get the best victory we must seek every posibility"

Lu tau siapa mereka?
Nobunaga Oda itu pimpinan klan Oda, jadi pewaris klan waktu umurnya masih 16 tahun. Kerennya, dia berhasil menyelamatkan klan Oda  yang nyaris dibantai dan malah menjadikan mereka klan nomor satu di Jepang.

Toyotomi Hideyoshi, tadinya tukang bawain sendal nobunaga. Cuma tukang bawain sendal?! Tapi akhirnya? Dia berhasil jadi shogun yang menguasai seluruh jepang.

Sedangkan Ieyasu Tokugawa? Pendiri dinasti Tokugawa yang berkuasa ampe 350 tahun. Padahal sebelumnya dia adalah tahanan perang yang keluarganya dibantai semua.

Cara berpikir mereka lain-lain,tapi yang sama dari mereka, mereka ga nyerah sama keadaan. Berhasil keluar dari keadaan mereka. Semangat yaa :)


Late post, sebuah cerita tentang para jenderal dari kamu yang masih mengembara di ujung utara Sumatera. Terimakasih banyak karena menjawab helaan nafasku dengan cara yang berbeda..
(cerita ditulis tanpa perubahan)


Senin, 03 Agustus 2015

"Love is a journey not a race, 
jadi mengapa harus terburu-buru?" 

~Mega

Selasa, 21 Juli 2015

"Allah itu istimewa, Dia senantiasa membuka pintu taubat seberapapun dosa yang dilakukan hambaNya."

~Bang Her

Minggu, 19 Juli 2015

"Poligami memang diperbolehkan, tapi itu menyakitkan. Jika benar-benar sayang, bagaimana tega seorang lelaki menyakiti hati kekasihnya?"

~diskusi malam bersama Karang

Jumat, 17 Juli 2015

"Nikah di usia semuda mungkin. Saya ingin dipinta, bukan meminta. Di waktu terbaik, tempat terbaik, dan dalam kondisi keimanan yang terbaik."

~Intan, balada23

Senin, 13 Juli 2015

"Memang tidak ada bulan yang lebih spesial sih, tapi ya mau bagaimana lagi, selama ramadhan taun ini dirasa lebih baik dibanding tahun lalu, Insya Allah kita termasuk orang-orang yang beruntung."

~Om Faisol
"Gue percaya ngga ada laki-laki yang hanya bisa memikirkan satu perempuan aja. Memangnya apa yang bisa membuat kami bisa bertahan pada satu perempuan? Rasa sayang? Terlalu sempit. Yang bisa membuat setia itu cuman komitmen dan rasa saling menghargai. Mungkin lu belum ketemu sama cowok yang tepat aja, atau udah ketemu tapi malah abai. Jadi perempuan itu jangan terlalu lama menutup hati. Ngga bagus."


~Huda, dalam perjalanan mengantarkan pulang