Kamis, 14 Januari 2016

Tentang Tanya

Sebenernya kepengen ngaplot gambar yang dulu banget pernah dikirim lewat WA, tapi sayangnya resolusinya kecil padahal gambarnya penuh tulisan. Jadi saya tulis ulang disini:


"yang kita tahu, mereka belum menikah sehingga kita merasa berhak bertanya mengapa mereka belum menikah.. .
yang kita tidak tahu, mereka sedang memperjuangkan sesuatu.
yang kita lupa, jodoh adalah misteri yang ditulis sendiri oleh Tuhan.

yang kita tahu, mereka belum dikaruniai anak sehingga kita merasa berhak bertanya mengapa mereka belum memiliki keturunan.. .
yang kita tidak tahu, mereka sedang memperjuangkan sesuatu.
yang kita lupa, rezeki berupa anak adalah pemberian Tuhan, jika Tuhan belum berkehendak maka sekuat apapun manusia berusaha, jika memang belum waktunya, ya belum waktunya.

Satu hal pasti menjadi dewasa adalah manusia cenderung menyimpan masalah sendiri, manusia akan cenderung menutup emosi mereka dengan khalayak. Manusia akan cenderung menampakkan hal yang baik-baik saja. Itulah perubahan, apabila ketika bayi manusia bebas menangis depan umum, semakin tua hal tersebut menjadi tidak mungkin terjadi bukan?

Semakin tua, manusia akan semakin menutupi apa yang cenderung membuatnya sedih dan menampakkan kondisi baik-baik saja. Seharusnya ini cukup menjadi bekal untuk berhenti bertanya mengenai takdir Tuhan.

Kita tidak tau kondisi yang sedang dialami lawan bicara kita.. . hingga kita sampai pada fase tersebut. Banyak orang berdalih bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut ya anggap saja doa. 

Tapi banyak pula yang lupa bahwa doa yang paling tulus adalah mendoakan diam-diam."

*ditulis tanpa perubahan dari gambar yang dikirimkan seorang kawan via wa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar