Nona muda yang
sedang mengembara di Solo, selamat pagi :)
Bagaimana kabar
dirimu? Semoga baik-baik saja.
Bersama surat ini
aku kirimkan gambar bunga matahari yang dipotret dari halaman belakang rumah.
Sebuah gambar yang kuharap bisa mewakili doaku untuk nona di seberang sana.
Bunga matahari itu
istimewa bukan?
Ia mengajarkan sebuah konsistensi terhadap kebenaran yang dibutuhkan. Bunga matahari akan selalu tumbuh menghadap cahaya matahari.
Semoga kita juga
begitu, selalu berupaya mencari kebenaran tanpa pernah menutup mata.
Meskipun seringkali
kebenaran memang tampak menyilaukan, bahkan kadang terasa membakar. Namun
kebenaran juga bisa menjadi damai menyejukkan. Kebenaran tidak hanya
dapat dilihat dari lubang satu sisi.
Bagiku nona,
kebenaran berwujud dalam banyak hal.
ia berwujud dalam
kitab suci yang diturunkan Sang Pencipta,
ia berwujud dalam
tiap hati manusia,
ia juga bisa
berwujud dalam logika,
atau berwujud dalam
hubungan kita dengan sesama.
Oia, aku tidak
bermaksud menceramahimu loh nona. Dirimu jauh lebih kritis dibandingkan diriku tentu saja. Kami memang tidak
seperti dirimu, mungkin itu sebabnya kamu menjauh, karena kami tidak seperti
yang nona inginkan, tetapi ketahuilah
bahwa kami semua sungguh menyayangimu.
Nona muda yang
baik,
Kita tidak bisa
mengharapkan orang lain seperti yang kita inginkan, meskipun kita sudah
melakukan apa yang terbaik untuk mereka. Setiap orang memiliki caranya
tersendiri untuk mewujudkan kasih sayangnya. Untuk bisa menerima dan diterima,
kita harus belajar memahami dan memaafkan. Itu artinya kita juga harus belajar
untuk menerima perlakuan seperti dilupakan, diabaikan, bahkan dijatuhkan. Namun
tentu saja hal tersebut tidak pernah dilakukan atas dasar kesengajaan,
percayalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar