Kamis, 26 Juni 2014

yesterday . . .


Ingatkah Kanda? 
Pada salah satu jamuan sore yang kita datangi atas undangan sang Mahaguru, Kanda mengabulkan permohonanku namun membuat banyak hal menjadi tak terduga. Begitu juga pada akhir pertemuan saat dirimu bertanya dengan lembut kepadaku:

"Apa yang sebenarnya Adinda cari? Sebuah pembenaran atau kebenaran?"

"Kebenaran akan membawa kedamaian hati bukan? Aku mencarinya, mungkin pendekatanku tersebut membuatnya terlihat seperti sebuah pencarian pembenaran."

"Berhati-hatilah Dinda, siapalah kita yang berhak menentukan sebuah kebenaran?"

"Karena itulah aku mencoba membelai wujudnya lewat kedamaian hatiku."

"Kedamaian hatimu atau kepuasan hatimu?"

Aku terdiam dan tak lama bergumam lirih, "Aku tidak tahu."

Dirimumenghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkan, 
"Kita seringkali terbelenggu pada sebuah eksistensi tanpa memperhatikan esensi yang sejatinya jauh lebih penting. Hati akan merasakan damai ketika ia merasa tenang bukan? Terbebas dari segala perasaan buruk yang mengganggu, Bebas lepas dari rasa bersalah, marah, kecewa, sedih atau perasaan serupa lainnya. Kapan hati kita akan benar-benar terlepas dari semua perasaan buruk itu Dinda?"

"Saat Tuhan memanggil kita pulang." Kuberanikan diri menatap matamu.

"Barangkali. Beruntungnya kita, Tuhan sungguh Maha Penyayang. Sebab itulah Ia ciptakan rasa damai di dalam hati orang-orang yang merasa yakin pada diriNya.  Kebenaran ada pada Tuhan, pada aturan aturan Tuhan. Duhai, Dinda sungguh tahu bukan bagaimana kesimpulannya?"

Seperti mengeja, kujawab pertanyaanmu perlahan. "Kebenaran ada di dalam kedamaian hati, dan kedamaian hati didapat dari ketaatan atas aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan."

"Barangkali."

Aku tersentak dan dengan spontan berujar, "Barangkali? Mungkin, Tuhan terkadang juga bisa salah. Aturan-aturannya tidak sepenuhnya kaku mengikat bukan?"

Ucapanku barusan menggetarkan lantai dan meruntuhkan dinding-dinding bisu yang sedari tadi mendengarkan, semuanya mendecak tak percaya pada apa yang aku katakan.

Aku tak lagi bisa mendengarkan kata-kata yang terlempar pada udara.
Mataku tertuju pada seulas senyum yang terlukis dalam gurat wajahmu yang menenangkan. Kita bertatapan lama sebelum dirimu kembali tertunduk.
Ya, tanpa perlu Kakanda ucapkan aku telah mengetahuinya. Ucapan terakhirku tadi  telah menjadi bumerang untukku sendiri.
Argumen-argumen panjangku sebelum perakapan singkat kita, hanyalah sebuah kepalsuan atas pemaksaan kehendak.
Dari awal aku memang mencari sebuah pembenaran untuk keegoisan diriku.

Sebuah keraguan terhadap Tuhan, bukti apalagi yang lebih valid?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar