Ingatkah Kanda?
Pada
salah satu jamuan sore yang kita datangi atas undangan sang Mahaguru, Kanda mengabulkan permohonanku namun membuat banyak
hal menjadi tak terduga. Begitu juga pada akhir pertemuan saat dirimu bertanya
dengan lembut kepadaku:
"Apa yang
sebenarnya Adinda cari? Sebuah pembenaran atau kebenaran?"
"Kebenaran akan
membawa kedamaian hati bukan? Aku mencarinya, mungkin pendekatanku tersebut
membuatnya terlihat seperti sebuah pencarian pembenaran."
"Berhati-hatilah
Dinda, siapalah kita yang berhak menentukan sebuah kebenaran?"
"Karena itulah
aku mencoba membelai wujudnya lewat kedamaian hatiku."
"Kedamaian
hatimu atau kepuasan hatimu?"
Aku terdiam dan tak
lama bergumam lirih, "Aku tidak
tahu."
Dirimumenghela nafas
panjang sebelum kembali melanjutkan,
"Kita
seringkali terbelenggu pada sebuah eksistensi tanpa memperhatikan esensi yang
sejatinya jauh lebih penting. Hati akan merasakan
damai ketika ia merasa tenang bukan? Terbebas dari segala perasaan buruk yang
mengganggu, Bebas lepas dari rasa bersalah, marah, kecewa, sedih atau perasaan
serupa lainnya. Kapan hati kita akan benar-benar terlepas dari semua perasaan
buruk itu Dinda?"
"Saat Tuhan
memanggil kita pulang." Kuberanikan diri menatap matamu.
"Barangkali.
Beruntungnya kita, Tuhan sungguh Maha Penyayang. Sebab itulah Ia ciptakan rasa
damai di dalam hati orang-orang yang merasa yakin pada diriNya. Kebenaran ada pada Tuhan, pada aturan aturan
Tuhan. Duhai, Dinda sungguh tahu bukan bagaimana kesimpulannya?"
Seperti mengeja,
kujawab pertanyaanmu perlahan. "Kebenaran ada di dalam kedamaian hati, dan
kedamaian hati didapat dari ketaatan atas aturan-aturan yang telah ditetapkan
oleh Tuhan."
"Barangkali."
Aku tersentak dan
dengan spontan berujar, "Barangkali? Mungkin, Tuhan terkadang juga bisa
salah. Aturan-aturannya tidak sepenuhnya kaku mengikat bukan?"
Ucapanku barusan
menggetarkan lantai dan meruntuhkan dinding-dinding bisu yang sedari tadi
mendengarkan, semuanya mendecak tak percaya pada apa yang aku katakan.
Aku tak lagi bisa
mendengarkan kata-kata yang terlempar pada udara.
Mataku tertuju pada
seulas senyum yang terlukis dalam gurat wajahmu yang menenangkan. Kita
bertatapan lama sebelum dirimu kembali tertunduk.
Ya, tanpa perlu
Kakanda ucapkan aku telah mengetahuinya. Ucapan terakhirku tadi telah menjadi bumerang untukku sendiri.
Argumen-argumen
panjangku sebelum perakapan singkat kita, hanyalah sebuah kepalsuan atas
pemaksaan kehendak.
Dari awal aku memang
mencari sebuah pembenaran untuk keegoisan diriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar