Hari ini untuk kesekian kalinya aku kembali menemukan lakon Rama dan Sinta dalam salah satu buku yang sedang kubaca. Bagian roman pada cerita Ramayana itu kembali mengusik hatiku. Sayang, aku menuliskan ini untukmu, setidaknya agar kamu megetahui kekhawatiranku sebelum kita bertemu.
Rama
merupakan titisan Dewa Wisnu dan Sinta merupakan titisan Dewi Laksmi, langit telah
menggariskan bahwa cinta mereka adalah abadi. Maka saat Dewa Dewi itu mewujud
dalam raga manusia, langit kembali mempersatukan mereka dengan menjadikan Rama
dan Sinta sebagai pasangan penguasa Ayodya. Kemudian seperti yang kamu tahu, Sinta diculik
oleh Rahwana hingga kemudian Rama menyerbu Alengka dan membebaskan Sinta. Tapi Sayang, permasalahannya
bukan pada pertempuran yang terjadi, bagiku permasalahannya ada pada diri Rama
sendiri.
Saat ditahan oleh Rahwana, Hanuman diam-diam datang menemui Sinta membawakan cincin kesetiaan untuk menguji kesucian istri Rama dalam cengkraman Rahwana yang kaya raya. Jika Sinta tidak terjamah oleh Rahwana maka cincin tersebut akan mampu masuk kedalam jarinya yang mungil. Setelah cincinnya berhasil tersemat dijari Sinta, barulah Rama memutuskan pergi menyelamatkannya. Mungkin bagimu terdengar heroik saat Rama mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Sinta. Bagiku justru ironis. Haruskah memastikan kesucian hanya untuk menyelamatkan orang yang kau cintai? Bagaimana jika saat itu Sinta tak berhasil mengenakan cincin yang dibawakan Hanuman? Ah, aku rasa jika itu yang terjadi maka alur penulisan Ramayana akan berubah.
Saat ditahan oleh Rahwana, Hanuman diam-diam datang menemui Sinta membawakan cincin kesetiaan untuk menguji kesucian istri Rama dalam cengkraman Rahwana yang kaya raya. Jika Sinta tidak terjamah oleh Rahwana maka cincin tersebut akan mampu masuk kedalam jarinya yang mungil. Setelah cincinnya berhasil tersemat dijari Sinta, barulah Rama memutuskan pergi menyelamatkannya. Mungkin bagimu terdengar heroik saat Rama mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Sinta. Bagiku justru ironis. Haruskah memastikan kesucian hanya untuk menyelamatkan orang yang kau cintai? Bagaimana jika saat itu Sinta tak berhasil mengenakan cincin yang dibawakan Hanuman? Ah, aku rasa jika itu yang terjadi maka alur penulisan Ramayana akan berubah.
Tidak
cukup sampai disitu. Ketika Sinta berhasil dibawa pulang ke Ayodya, apa yang
kemudian dilakukan oleh Rama? Dia membakar Sinta, sekali lagi menguji kesetiaan istrinya. Kali ini didepan
seluruh rakyat mereka, rakyat Ayodya. Jika Sinta tak berhasil ditaklukan Rahwana, maka ia tidak akan terbakar dalam api. Rahwana yang menculik Sinta memang raja raksasa, namun dalam
700 tahun
kehidupannya terlalu banyak perempuan yang terjebak dalam pelukannya. Penguasa
Alengka itu berilmu tinggi dan penuh tipudaya, sederetan Dewi, Bidadari, Ratu Siluman, bahkan
anak pendeta bernama Dewi Kresnasih, juga jatuh bertekuk lutut di hadapannya.
Prosesi pembakaran Sinta menegaskan kesetiaannya terhadap Rama, lagi lagi
Sinta lulus dalam ujian. Batara Agni telah membuat api itu sejuk dan
menciptakan singgasana teratai di dalamnya.
Sungguh
tak dikira, selepas prosesi pembakaran Sinta yang bahkan membuat Trijata, putri
Wibisana marah karena permintaan Rama, derita Sinta belum selesai. Nyaris
seluruh warga Ayodya menjemur diri di alun-alun
untuk menyatakan protes menolak kehadiran Sinta di Ayodya, mereka tak percaya
Sinta tidak membiarkan dirinya dijamah oleh Rahwana. Dan Sayang, kamu tahu apa
yang akhirnya dilakukan oleh Rama ketika diminta Laksmana untuk memilih antara
rakyat Ayodya atau istrinya? Ia memilih rakyat dan kekuasaannya. Rama tak bergeming saat Sinta melarikan diri
kehutan dalam kondisi yang sedang mengandung, lebih gilanya Rama bahkan
memerintahkan Hanuman untuk
tidak ikut campur. Itu artinya Hanuman tidak diperbolehkan menolong Sinta yang menggelandang ditengah hutan sendirian. Astaga! 14 Tahun
Sinta menemani Rama dan Laksmana mengembara di Rimba sebelum Rama menjadi
penguasa Ayodya. Tidak ada yang disesalkan Sinta, ia tidak pernah bertanya mengapa harus meninggalkan kenyamanan istana ayahnya, selama ia tetap dapat berdekatan dengan Rama ia tak masalah dengan itu semua. Sungguh jahat apa yang dilakukan Rama terhadap
Sinta atas dasar segala
kecurigaannya.
Selesai?
Belum. Pun ketika Rama menjemput Sinta ke dalam hutan setelah
bertemu dengan putra kembarnya
Lawa dan Kusa, ia kembali mempertanyakan kesetiaan Sinta. Saat itulah Sinta
memilih ujian terakhirnya sendiri, menolak tunduk dibawah arogansi Rama,
dikatakannya dengan lantang bahwa jika ia adalah seorang perempuan yang setia
maka ia bersedia ditelan hidup-hidup
oleh bumi. Seketika tanah berguncang dan terbelah, langit mengabulkan permintaan Sinta, Lawa dan Kusa kehilangan ibunda tercinta mereka. Rama yang tak kuasa menanggung derita memilih melakukan moksa di sungai tak lama kemudian. Begitulah akhirnya. Lebih tragis dari kisah Romeo dan Juliet.
Sayang, cerita kita
memang belum dimulai, meskipun begitu aku harap kita berdua bisa memutuskan
untuk menjalin cerita yang berbeda dari Rama dan Sinta. Aku harap kamu tidak
perlu membakarku hidup hidup untuk menguji kesetiaanku.
Setidaknya nanti saat kita menemui masalah dalam cerita kita, komunikasi yang baik
akan menyelamatkan kita dari hal-hal
buruk yang dapat saling menyakiti satu sama lain.
Satu
lagi harapanku, saat aku dan kamu memandang
langit malam (baik itu penuh bintang atau mendung kelabu), semoga kita berhasil memahami bagaimana menempatkan
pandangan orang lain terhadap cerita
kita. Bagaimana menempatkan kepercayaan dan rasa cinta diatas itu semua. Rasa percaya kita haruslah seperti bintang, ia tidak menghilang, terkadang hanya tertutup awan dan kilauan semu lampu. Sayang, semoga kisah kita berakhir bahagia, bukan seperti Sinta yang ditelan
bumi dan Rama yang menghanyutkan
diri dalam sungai. Malam-malamku
dipenuhi doa agar langit juga menggariskan akhir yang sama dengan kisah Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi, abadi selamanya.

Semoga dapet pasangan yang sayang gemati sama kamu ai :) amiin
BalasHapusbtw nemu dimana ai buku Rama & Shinta nya? itu buku langka kan...hehe
hihihihi aamiin laad, maacii~
BalasHapusitu bukan buku Rama & shinta lad, cerita ttg ramayana yg kebetulan ada bagian merekanya aja yg lg dibahas
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus