Minggu, 10 Juli 2016

#3: 123suratcinta

Hari ini untuk kesekian kalinya aku kembali menemukan lakon Rama dan Sinta dalam salah satu buku yang sedang kubaca. Bagian roman pada cerita Ramayana itu kembali mengusik hatiku. Sayang, aku menuliskan ini untukmu, setidaknya agar kamu megetahui kekhawatiranku sebelum kita bertemu.


Rama merupakan titisan Dewa Wisnu dan Sinta merupakan titisan Dewi Laksmi, langit telah menggariskan bahwa cinta mereka adalah abadi. Maka saat Dewa Dewi itu mewujud dalam raga manusia, langit kembali mempersatukan mereka dengan menjadikan Rama dan Sinta sebagai pasangan penguasa Ayodya. Kemudian seperti yang kamu tahu, Sinta diculik oleh Rahwana hingga kemudian Rama menyerbu Alengka dan membebaskan Sinta. Tapi Sayang, permasalahannya bukan pada pertempuran yang terjadi, bagiku permasalahannya ada pada diri Rama sendiri. 

   Saat ditahan oleh Rahwana, Hanuman diam-diam datang menemui Sinta membawakan cincin kesetiaan untuk menguji kesucian istri Rama dalam cengkraman Rahwana yang kaya raya. Jika Sinta tidak terjamah oleh Rahwana maka cincin tersebut akan mampu masuk kedalam jarinya yang mungil. Setelah cincinnya berhasil tersemat dijari Sinta, barulah Rama memutuskan pergi menyelamatkannya. Mungkin bagimu terdengar heroik saat Rama mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Sinta. Bagiku justru ironis. Haruskah memastikan kesucian hanya untuk menyelamatkan orang yang kau cintai? Bagaimana jika saat itu Sinta tak berhasil mengenakan cincin yang dibawakan Hanuman? Ah, aku rasa jika itu yang terjadi maka alur penulisan Ramayana akan berubah.

Tidak cukup sampai disitu. Ketika Sinta berhasil dibawa pulang ke Ayodya, apa yang kemudian dilakukan oleh Rama? Dia membakar Sinta, sekali lagi menguji kesetiaan istrinya. Kali ini didepan seluruh rakyat mereka, rakyat Ayodya. Jika Sinta tak berhasil ditaklukan Rahwana, maka ia tidak akan terbakar dalam api. Rahwana yang menculik Sinta memang raja raksasa, namun dalam 700 tahun kehidupannya terlalu banyak perempuan yang terjebak dalam pelukannya. Penguasa Alengka itu berilmu tinggi dan penuh tipudaya, sederetan Dewi, Bidadari, Ratu Siluman, bahkan anak pendeta bernama Dewi Kresnasih, juga jatuh bertekuk lutut di hadapannya. Prosesi pembakaran Sinta menegaskan kesetiaannya terhadap Rama, lagi lagi Sinta lulus dalam ujian. Batara Agni telah membuat api itu sejuk dan menciptakan singgasana teratai di dalamnya.
          
Sungguh tak dikira, selepas prosesi pembakaran Sinta yang bahkan membuat Trijata, putri Wibisana marah karena permintaan Rama, derita Sinta belum selesai. Nyaris seluruh warga Ayodya menjemur diri di alun-alun untuk menyatakan protes menolak kehadiran Sinta di Ayodya, mereka tak percaya Sinta tidak membiarkan dirinya dijamah oleh Rahwana. Dan Sayang, kamu tahu apa yang akhirnya dilakukan oleh Rama ketika diminta Laksmana untuk memilih antara rakyat Ayodya atau istrinya? Ia memilih rakyat dan kekuasaannya.  Rama tak bergeming saat Sinta melarikan diri kehutan dalam kondisi yang sedang mengandung, lebih gilanya Rama bahkan memerintahkan Hanuman untuk tidak ikut campur. Itu artinya Hanuman tidak diperbolehkan menolong Sinta yang menggelandang ditengah hutan sendirian. Astaga! 14 Tahun Sinta menemani Rama dan Laksmana mengembara di Rimba sebelum Rama menjadi penguasa Ayodya. Tidak ada yang disesalkan Sinta, ia tidak pernah bertanya mengapa harus meninggalkan kenyamanan istana ayahnya, selama ia tetap dapat berdekatan dengan Rama ia tak masalah dengan itu semua. Sungguh jahat apa yang dilakukan Rama terhadap Sinta atas dasar segala kecurigaannya.

Selesai? Belum. Pun ketika Rama menjemput Sinta ke dalam hutan setelah bertemu dengan putra kembarnya Lawa dan Kusa, ia kembali mempertanyakan kesetiaan Sinta. Saat itulah Sinta memilih ujian terakhirnya sendiri, menolak tunduk dibawah arogansi Rama, dikatakannya dengan lantang bahwa jika ia adalah seorang perempuan yang setia maka ia bersedia ditelan hidup-hidup oleh bumi. Seketika tanah berguncang dan terbelah, langit mengabulkan permintaan Sinta, Lawa dan Kusa kehilangan ibunda tercinta mereka. Rama yang tak kuasa menanggung derita memilih melakukan moksa di sungai tak lama kemudian. Begitulah akhirnya. Lebih tragis dari kisah Romeo dan Juliet.

Sayang, cerita kita memang belum dimulai, meskipun begitu aku harap kita berdua bisa memutuskan untuk menjalin cerita yang berbeda dari Rama dan Sinta. Aku harap kamu tidak perlu membakarku hidup hidup untuk menguji kesetiaanku. Setidaknya nanti saat kita menemui masalah dalam cerita kita, komunikasi yang baik akan menyelamatkan kita dari hal-hal buruk yang dapat saling menyakiti satu sama lain.

Satu lagi harapanku, saat aku dan kamu memandang langit malam (baik itu penuh bintang atau mendung kelabu), semoga kita berhasil memahami bagaimana menempatkan pandangan orang lain terhadap cerita kita. Bagaimana menempatkan kepercayaan dan rasa cinta diatas itu semua. Rasa percaya kita haruslah seperti bintang, ia tidak menghilang, terkadang hanya tertutup awan dan kilauan semu lampu. Sayang, semoga kisah kita berakhir bahagia, bukan seperti Sinta yang ditelan bumi dan Rama yang menghanyutkan diri dalam sungai. Malam-malamku dipenuhi doa agar langit juga menggariskan akhir yang sama dengan kisah Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi, abadi selamanya. 



3 komentar:

  1. Semoga dapet pasangan yang sayang gemati sama kamu ai :) amiin

    btw nemu dimana ai buku Rama & Shinta nya? itu buku langka kan...hehe

    BalasHapus
  2. hihihihi aamiin laad, maacii~
    itu bukan buku Rama & shinta lad, cerita ttg ramayana yg kebetulan ada bagian merekanya aja yg lg dibahas

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus