Menatap
langit dari beranda kecil di salah satu sudut bumi. Percakapan yang dimulai dari
pertanyaanku tentang Tuhan.
Kamu : Kalau kamu
butuh jawaban, maka kamu harus siap mendengarkan. Itu artinya tidak sekarang.
Ann : Aku siap
mendengarkan.
Kamu : Jawabannya
akan panjang, terlebih dengan sanggahanmu yang tidak akan sedikit.
Ann : Tapi aku tidak
akan bisa tidur jika penasaran.
Kamu : (tertawa)
Bohong. Kamu akan tertidur, aku tahu.
Ann : Menyebalkan.
Kamu kan tahu aku sedang mencari jawaban. Aku mau jawabannya sekarang. Aku
tidak butuh kamu dengarkan. Aku hanya ingin tahu apa yang harus aku lakukan.
Kamu : Benar-benar
keras kepala (tersenyum dan mengambil nafas berat) baiklah, kalau kamu bisa
menghitung bintang di langit malam ini, maka kita akan mendiskusikannya
sekarang.
Ann : (terdiam
sejenak, kemudian sibuk menengadah menghitung bintang yang bertaburan) Lebih
dari dua lima.
Kamu : Jumlah
pastinya?
Ann : Hitung saja
sendiri.
Kamu : Itu bukan angka yang sebenarnya.
Ann : Iya deh iya.
(Kembali mendongakkan kepala) hmm...dua tiga? (mulai ragu)
Kamu : Katanya lebih
dari dua lima?
Ann : Mana aku tahu,
tadi segitu sekarang segini.
Kamu : Tidurlah.
Ann : Kok gitu? Kan
aku sudah mencoba menghitungnya.
Kamu : Hitung lagi.
Kamu belum sepenuhnya berusaha.
Ann : (menekuk muka,
merutuk, namun lagi lagi kembali mencoba menghitung bintang) ada..dua...tujuh?
Kamu : Salah. Kamu
hanya tidak teliti. Tidak menghitungnya dengan benar.
Ann : Yaudah sih
kalau gak mau jawab bilang aja dari awal.
Kamu : Aku sudah
bilang, kamu tidak siap mendengarkan sekarang.
Ann : Sok tahu.
Kamu : (tertawa
(lagi)) Coba tebak siapa yang sok tahu bilang siap mendengarkan tapi baru
dibantah tiga kali jawabannya sudah cemberut? Siapa yang bilang siap
mendengarkan tapi saat dikomentari apa yang telah dilakukan, dia malah marah?
Kemudian hening,
hanya suara jangkrik, kodok dan serangga malam lainnya yang masih terdengar.
Kamu : Sejujurnya,
aku bahkan tidak tahu jumlah bintangnya malam ini ada berapa.
Ann : (mendelik
marah)
Kamu : (segera
melanjutkan) Aku ingin kamu kembali mengingat betapa pentingnya siap
mendengarkan sebelum berdiskusi. Aku tidak benar-benar mengetahui tentang apa
yang kamu tanyakan, aku tidak memiliki argumen yang absolut tentang Tuhan, sama
halnya seperti aku yang tidak tahu jelas berapa jumlah bintang malam ini.
Lihatlah bagaimana kamu menjadi kesal mendengar pendapat yang berbeda dariku,
terlebih saat aku memintamu untuk kembali menghitung bintang berulang
kali. Hal yang sama bisa saja terjadi
saat jawabanku atas pertanyaanmu tidak sesuai dengan apa yang ingin kamu
dengar. Berdiskusi tanpa kesiapan mendengarkan hanya akan menghasilkan
perdebatan bodoh yang membuat hatimu lelah. Kita sudah pernah membahas tentang
ini. (mengambil cangkir teh dan
meminumnya) Ngomong-ngomong, kembang sepatunya bagus ya?
| Foto: dok pribadi |
Ann : Aku lebih suka
bunga putih yang disampingnya
Kamu : (Berjalan dan
berdiri di samping rumpun bunga putih di dalam pagar) Kamu lelah, kepalamu tak
kan mampu lagi untuk berpikir, hatimu terlampau penuh dengan prasangka.
Tidurlah. Aku akan tetap terjaga di sini. Esok,
saat bunga ini dipenuhi oleh embun pagi, akan kujawab semua
pertanyaanmu.
[[Menatap langit
pedesaan bersamamu,
saat Tuhan menjelma menjadi tanda tanya]]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar