Kamis, 12 Februari 2015

Bincang Lalu: Mencoba Mendengarkan

Menatap langit dari beranda kecil di salah satu sudut bumi. Percakapan yang dimulai dari pertanyaanku tentang Tuhan.

Kamu : Kalau kamu butuh jawaban, maka kamu harus siap mendengarkan. Itu artinya tidak sekarang.

Ann : Aku siap mendengarkan.

Kamu : Jawabannya akan panjang, terlebih dengan sanggahanmu yang tidak akan sedikit.

Ann : Tapi aku tidak akan bisa tidur jika penasaran.

Kamu : (tertawa) Bohong. Kamu akan tertidur, aku tahu.

Ann : Menyebalkan. Kamu kan tahu aku sedang mencari jawaban. Aku mau jawabannya sekarang. Aku tidak butuh kamu dengarkan. Aku hanya ingin tahu apa yang harus aku lakukan.

Kamu : Benar-benar keras kepala (tersenyum dan mengambil nafas berat) baiklah, kalau kamu bisa menghitung bintang di langit malam ini, maka kita akan mendiskusikannya sekarang.

Ann : (terdiam sejenak, kemudian sibuk menengadah menghitung bintang yang bertaburan) Lebih dari dua lima.

Kamu : Jumlah pastinya?

Ann : Hitung saja sendiri.

Kamu : Itu bukan angka yang sebenarnya.

Ann : Iya deh iya. (Kembali mendongakkan kepala) hmm...dua tiga? (mulai ragu)

Kamu : Katanya lebih dari dua lima?

Ann : Mana aku tahu, tadi segitu sekarang segini.

Kamu : Tidurlah.

Ann : Kok gitu? Kan aku sudah mencoba menghitungnya.

Kamu : Hitung lagi. Kamu belum sepenuhnya berusaha.

Ann : (menekuk muka, merutuk, namun lagi lagi kembali mencoba menghitung bintang) ada..dua...tujuh?

Kamu : Salah. Kamu hanya tidak teliti. Tidak menghitungnya dengan benar.

Ann : Yaudah sih kalau gak mau jawab bilang aja dari awal.

Kamu : Aku sudah bilang, kamu tidak siap mendengarkan sekarang.

Ann : Sok tahu.

Kamu : (tertawa (lagi)) Coba tebak siapa yang sok tahu bilang siap mendengarkan tapi baru dibantah tiga kali jawabannya sudah cemberut? Siapa yang bilang siap mendengarkan tapi saat dikomentari apa yang telah dilakukan, dia malah marah?

Kemudian hening, hanya suara jangkrik, kodok dan serangga malam lainnya yang masih terdengar.

Kamu : Sejujurnya, aku bahkan tidak tahu jumlah bintangnya malam ini ada berapa.

Ann : (mendelik marah)

Kamu : (segera melanjutkan) Aku ingin kamu kembali mengingat betapa pentingnya siap mendengarkan sebelum berdiskusi. Aku tidak benar-benar mengetahui tentang apa yang kamu tanyakan, aku tidak memiliki argumen yang absolut tentang Tuhan, sama halnya seperti aku yang tidak tahu jelas berapa jumlah bintang malam ini. Lihatlah bagaimana kamu menjadi kesal mendengar pendapat yang berbeda dariku, terlebih saat aku memintamu untuk kembali menghitung bintang berulang kali.  Hal yang sama bisa saja terjadi saat jawabanku atas pertanyaanmu tidak sesuai dengan apa yang ingin kamu dengar. Berdiskusi tanpa kesiapan mendengarkan hanya akan menghasilkan perdebatan bodoh yang membuat hatimu lelah. Kita sudah pernah membahas tentang ini.  (mengambil cangkir teh dan meminumnya) Ngomong-ngomong, kembang sepatunya bagus ya? 


Foto: dok pribadi
Ann : Aku lebih suka bunga putih yang disampingnya


Kamu : (Berjalan dan berdiri di samping rumpun bunga putih di dalam pagar) Kamu lelah, kepalamu tak kan mampu lagi untuk berpikir, hatimu terlampau penuh dengan prasangka. Tidurlah. Aku akan tetap terjaga di sini. Esok,  saat bunga ini dipenuhi oleh embun pagi, akan kujawab semua pertanyaanmu.



[[Menatap langit pedesaan bersamamu, 
saat Tuhan menjelma menjadi tanda tanya]]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar