Kamis, 15 Januari 2015

(bukan) Gunung Terakhir

Ini sungguh menyenangkan. Aku begitu dipenuhi kebahagiaan. 
Dan pulang tanpa penyesalan maupun rasa lelah. 

Aku menemukan apa yang selama ini aku cari, tidak ada.
Aku serius. Memang tidak ada, Aku telah menemukan ketiadaan.
Kita seringkali mencari tapi sesungguhnya tidak tahu apa yang kita cari. Aku juga begitu.

Hidup begitu ajaib, jalan ceritanya serba tak terduga.
Sejauh apapun jarak yang pernah ditempuh, seberapa banyak tempat yang pernah disinggahi, bisa jadi tidak akan berarti apa-apa, malah menyisakan kesombongan dan keinginan terlihat lebih hebat.



Pada akhirnya, perjalanan sejati sebenarnya adalah perjalanan ke dalam hati. Tidak semua orang sanggup melakukannya, pun begitu pula dengan perkara menaklukan puncak gunung, menelusuri goa, ataupun menyelami lautan. Semuanya berasal dari sini, dari hati.

Tidak penting siapa dirimu dan apa yang kau miliki untuk melakukan perjalanannya, tanya saja pada hatimu. Bagaimana?
Itulah perjalanan yang sesungguhnya. 

Maka telah kudapati bahwa perjalananku berikutnya adalah menemukan tempat pulang, menemukan hatiku. Tidak lagi penting dimana dan kemana kakiku akan melangkah.

Gunung itu akan selalu ada, di hidupku, dalam bentuk apapun.
Tugasku bukan menaklukannya, tapi melakukan perjalanan menuju ke seberangnya.
Untuk menemukan gunung-gunung lain, sebelum aku sampai ke rumah.



Puncak Munara, 14 Januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar