Sabtu, 15 November 2014

Mimpi

Kau butuh seseorang, tapi tak pernah memberikan kesempatan bagi orang lain untuk memasuki hatimu.
Yang kau lakukan hanya menyakiti dirimu sendiri, berulang terus menerus.
Mereka datang ke kehidupanmu. Dan kamu selalu seperti ini. Hanya bernyanyi bersama mereka dari balik jendela, tak pernah memberikan kunci pintumu. Menunggu, hingga mereka bosan dan memilih pintu yang lain. Pintu yang telah terbuka untuk diri mereka sendiri.

Aku sungguh tak mengerti, sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu?!
Kau bernyanyi dan tertawa dari jendela,, kemudian menangis dan meratap dari balik pintu yang tertutup rapat. Kau pikir dirimu kuat, tapi tidak. Kau tahu itu. Tahu bahwa kau lebih rapuh dari rumah-rumah lainnya.
Rumahmu tampak indah dari luar, menyenangkan. Tak bersekat tanpa pagar. Kau bahkan menanam banyak tanaman berwarna-warni dalam tamanmu, tertawa dari balik jendela dan memanggang kue-kue yang aromanya keluar dari balik perapian. Orang-orang berdatangan ke halamanmu yang tak pernah sepi. Beberapa datang dan menunggumu membuka pintu, yang lain datang hanya untuk singgah bertanya alamat atau sekedar menyapa mengucapkan selamat pagi, ada juga yang datang sesekali dan mengetuk pintumu. Tapi diantara mereka semua tidak ada pernah yang kau biarkan menunggu terlalu lama. Jika kau merasa bahwa mereka terlalu menghabiskan banyak waktunya di halamanmu, kau akan diam, mematikan semua lampu, menutup jendela dan perapian, kemudian membisu di dalam selimut, membiarkan mereka pergi mencari rumah lainnya. Kemudian lagi-lagi kau akan menangis.

Kenapa?! Apa yang salah denganmu?! Apa yang salah dengan isi kepalamu?!
Apa yang salah dalam kenanganmu?! Tak bisakah kau buang saja segala trauma masa lalumu itu?! Mengisi hidupmu dengan segala impian berwarna-warni?!

Kau pun tertawa dan berucap dari balik jendela, mengulang kata-kata dalam salah satu film favoritmu.
"Kamu tahu tidak? Kata 'trauma' berasal dari bahasa yunani, 'tráv̱ma' yang artinya 'luka', dan dalam bahasa jerman mimpi disebut sebagai 'träumen'. 
Jadi, bagaimana mungkin aku lupa jika aku bermimpi setiap malam? 
dan semua orang selalu mengingatkanku tentang mimpi, tentang upaya mengejar mimpi, sedang aku hanya membutuhkan kehidupan."

Aku hanya bisa kembali menghela nafas, membuat cermin di depanku basah oleh butiran-butiran udara. Diam-diam berharap agar sang naga segera datang dan membakar seluruh dinding rumahmu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar