Kau butuh seseorang,
tapi tak pernah memberikan kesempatan bagi orang lain untuk memasuki hatimu.
Yang kau lakukan
hanya menyakiti dirimu sendiri, berulang terus menerus.
Mereka datang ke
kehidupanmu. Dan kamu selalu seperti ini. Hanya bernyanyi bersama mereka dari
balik jendela, tak pernah memberikan kunci pintumu. Menunggu, hingga mereka
bosan dan memilih pintu yang lain. Pintu yang telah terbuka untuk diri mereka
sendiri.
Aku sungguh tak
mengerti, sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu?!
Kau bernyanyi dan
tertawa dari jendela,, kemudian menangis dan meratap dari balik pintu yang
tertutup rapat. Kau pikir dirimu
kuat, tapi tidak. Kau tahu itu. Tahu bahwa kau lebih rapuh dari rumah-rumah
lainnya.
Rumahmu tampak indah
dari luar, menyenangkan. Tak bersekat tanpa pagar. Kau bahkan menanam banyak
tanaman berwarna-warni dalam tamanmu, tertawa dari balik jendela dan memanggang
kue-kue yang aromanya keluar dari balik perapian. Orang-orang berdatangan ke
halamanmu yang tak pernah sepi. Beberapa datang dan menunggumu membuka pintu,
yang lain datang hanya untuk singgah bertanya alamat atau sekedar menyapa
mengucapkan selamat pagi, ada juga yang datang sesekali dan mengetuk pintumu.
Tapi diantara mereka semua tidak ada pernah yang kau biarkan menunggu terlalu
lama. Jika kau merasa bahwa mereka terlalu menghabiskan banyak waktunya di
halamanmu, kau akan diam, mematikan semua lampu, menutup jendela dan perapian,
kemudian membisu di dalam selimut, membiarkan mereka pergi mencari rumah
lainnya. Kemudian lagi-lagi kau akan menangis.
Kenapa?! Apa yang
salah denganmu?! Apa yang salah dengan isi kepalamu?!
Apa yang salah dalam
kenanganmu?! Tak bisakah kau buang saja segala trauma masa lalumu itu?! Mengisi
hidupmu dengan segala impian berwarna-warni?!
Kau pun tertawa dan berucap dari balik jendela, mengulang kata-kata dalam salah satu film favoritmu.
"Kamu
tahu tidak? Kata 'trauma' berasal dari bahasa yunani, 'tráv̱ma' yang artinya 'luka', dan dalam
bahasa jerman mimpi disebut sebagai 'träumen'.
Jadi, bagaimana
mungkin aku lupa jika aku bermimpi setiap malam?
dan semua orang selalu
mengingatkanku tentang mimpi, tentang upaya mengejar mimpi, sedang aku hanya
membutuhkan kehidupan."
Aku hanya bisa kembali menghela nafas, membuat cermin di depanku basah oleh butiran-butiran udara. Diam-diam berharap agar sang naga segera datang dan membakar seluruh dinding rumahmu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar