Jumat, 30 Mei 2014

Sebuah Keputusan Untuk Ibu


Seorang gadis manis  tiba-tiba memulai chat denganku malam ini, memberi semangat dan sebuah pernyataan akhir dalam kalimatnya...
"kak ayo kita naik gunung sama2 lagi kalau skripsinya udah selesai :) "
Kepalaku tertunduk lunglai dan mencoba tersenyum. Tidak ada lagi keraguan dalam menjawabnya, "aku udah ga naek gunung lg, insya Allah..hehehe"
Dan sudah dapat diduga pertanyaan yang akan keluar darinya sejurus kemudian, "Kenapa?"

Yaa, tentu saja itu adalah pertanyaan yang pasti akan ditanyakan oleh banyak orang untukku, kenapa?
Mungkin akan ada beberapa orang yang akan mengatakan, "kemaren-kemaren bilangnya juga begitu, entar juga naek lagi." hei dude, akan kujelaskan disini sekarang. Ini tidak seperti yang kau kira, bukan sebuah alasan seperti sebelum-sebelumnya. Ini adalah sebuah keputusan tercepat dan terbulat yang pernah kubuat seumur hidupku.

Itu karena seseorang. Seseorang yang bahkan lebih berharga dari hidupku sendiri, ibuku.

Benar memang, banyak pendaki perempuan yang dilarang mendaki oleh orang tuanya. Seberapa keraspun aku mencoba menjelaskan, ibu sejak awal memang tak setuju dengan kegiatanku yang satu itu. Namun entah bagaimana  aku selalu bisa mengelak dan meyakinkannya. Dan inilah aku, seorang perempuan yang tak memiliki kondisi sebaik orang lain pada umumnya, tidak begitu direstui orang tua untuk melakukan pendakian, tapi telah berhasil menginjakkan kaki di beberapa gunung Indonesia.

Tapi kenapa kemudian sekarang aku berhenti?

Beberapa minggu yang lalu aku mendapatkan hukuman; tidak boleh lagi melakukan pendakian. 'Ah yang lalu-lalu juga begitu dan tetap saja aku mampu berhasil mendapat izin mendaki' begitu pikirku. Maka malam ini kuajukanlah sebuah permintaan izin untuk pendakian ke gede-pangrango. Pada awalnya perdebatan berjalan seperti biasa hingga kemudian ibu mulai menangis. Sial, akupun mulai mengutuki diri dalam hati karena membuat airmatanya jatuh. Beliau terus bercerita di antara tangisnya.

Ibu menjelaskan kondisinya yang semakin memburuk. Tentang paru-parunya yang mulai berlubang, kondisi ginjalnya yang semakin parah, darahnya yang tak kunjung membaik, juga tentang liver dan jantung yang bermasalah sejak ia lahir dan membuatnya baru bisa berjalan di umur 3 tahun, bahkan beberapa kerabat dan dokter di keluarga besar mengira bahwa ibuku tak kan bisa bertahan hingga usia remaja.
Aku tahu kondisimu bu, dan kondisi dirimulah yang selalu menjadi pertimbangan utamaku dalam berbagai hal. Aku kan hanya minta pergi selama beberapa hari, tidak terlalu lama bukan?

Biasanya perdebatan izin itu selalu seputar kekhawatiran orang tuaku mengenai kondisiku di sana nantinya, sayangnya kali ini sungguh berbeda, aku salah dan kalah telak.

Katamu bu, dokter beberapa kali menelponmu, mendesak untuk melakukan operasi lagi secepatnya, begitu juga dengan bude dan bu dian, dua tetangga kita yang bekerja sebagai perawat. Tapi kau selalu dengan tegas menolak usulan itu. Kau takut, takut bahwa penghujung nyawamu justru berada di atas meja operasi, kau takut bahwa kau tidak akan bisa melihat kami lagi, takut tidak bisa memasakkan makanan untuk kami, takut tidak bisa menyambut kami ketika kami pulang ke rumah, meskipun aku tahu menghabiskan sebagian besar umurmu berada di rumah sepanjang hari rasanya pasti sungguh menjemukan.

Kenapa kau begitu takut? 
Karena kau tahu seberapa besar resiko operasi itu, resiko yang besar, sebanding dengan rasa sakit yang selalu kau rasakan setiap harinya.  Dan kau telah memilih bu, untuk mempertahankan rasa sakit itu sebagai harga yang harus kau bayar bagi sebuah kebersamaan yang seringkali kami abaikan begitu saja. Kau tidak ingin kehilangan sedikitpun waktu bersama kami. Bahkan di dalam doamu di setiap malam, bukan kesembuhan yang kau pinta, doamu sederhana saja, hanya meminta Tuhan membangunkanmu keesokan paginya  agar kau bisa kembali melihat kami. Itulah sebabnya setiap malam kau tak juga bosan mengirimkan sms kepada sang adik kedua untuk pulang kerumah, itulah sebabnya kau tak ambil pusing dengan orang-orang yang mengatakan bahwa kau terlalu overprotektif kepada kami, itulah sebabnya kau tidak ingin aku pergi mendaki gunung. Kau takut bu, takut ketika maut menjemputmu aku sedang tak ada disampingmu, sama seperti saat maut menjemput nenek sedangkan aku terperangkap dalam badai di merbabu. Kata-katamu merobohkan segala argumen yang telah kupersiapkan.

Tidak, aku tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Dan aku pasti tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri jika itu terjadi padamu bu, tidak akan.

Suara lirihmu tidak hanya membuatku segera mengambil keputusan untuk menghentikan aktifitasku yang satu itu, tapi juga keputusan untuk menolak sebuah kemungkinan baru yang ditawarkan untuk hidupku oleh seseorang yang tampak begitu sempurna.  Tak lagi aku peduli dengan segala kemungkinan buruk yang akan menimpaku jika aku menolak orang-orang semacam dia. Karena tanggung jawabku di sini bersamamu belum selesai.

kau selalu bersedia untuk menanggung bisikan maut setiap harinya hanya untuk tetap bisa bersama kami, maka aku juga takkan segan menanggung resiko apapun untuk bisa bersamamu selama mungkin.

Bazooka Akbar Anantama; salah seorang pendaki hebat yang kukenal pernah mengatakan padaku,"Perjuangkan apa yang pantas diperjuangkan."
Dan bagiku, tidak ada lagi yang lebih pantas untuk diperjuangkan selain dirimu ibu. 
Tidak ada lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar