Seorang gadis
manis tiba-tiba memulai chat denganku
malam ini, memberi semangat dan sebuah pernyataan akhir dalam
kalimatnya...
"kak ayo kita naik gunung sama2 lagi kalau skripsinya udah selesai :) "
"kak ayo kita naik gunung sama2 lagi kalau skripsinya udah selesai :) "
Kepalaku tertunduk
lunglai dan mencoba tersenyum. Tidak ada lagi keraguan dalam menjawabnya,
"aku udah ga naek gunung lg, insya Allah..hehehe"
Dan sudah dapat
diduga pertanyaan yang akan keluar darinya sejurus kemudian,
"Kenapa?"
Yaa, tentu saja itu
adalah pertanyaan yang pasti akan ditanyakan oleh banyak orang untukku, kenapa?
Mungkin akan ada
beberapa orang yang akan mengatakan, "kemaren-kemaren bilangnya juga
begitu, entar juga naek lagi." hei dude, akan kujelaskan disini sekarang.
Ini tidak seperti yang kau kira, bukan sebuah alasan seperti
sebelum-sebelumnya. Ini adalah sebuah keputusan tercepat dan terbulat yang
pernah kubuat seumur hidupku.
Itu karena
seseorang. Seseorang yang bahkan lebih berharga dari hidupku sendiri, ibuku.
Benar memang, banyak
pendaki perempuan yang dilarang mendaki oleh orang tuanya. Seberapa keraspun
aku mencoba menjelaskan, ibu sejak awal memang tak setuju dengan kegiatanku
yang satu itu. Namun entah bagaimana aku
selalu bisa mengelak dan meyakinkannya. Dan inilah aku, seorang perempuan yang
tak memiliki kondisi sebaik orang lain pada umumnya, tidak begitu direstui
orang tua untuk melakukan pendakian, tapi telah berhasil menginjakkan kaki di
beberapa gunung Indonesia.
Tapi kenapa kemudian
sekarang aku berhenti?
Beberapa minggu yang
lalu aku mendapatkan hukuman; tidak boleh lagi melakukan pendakian. 'Ah yang
lalu-lalu juga begitu dan tetap saja aku mampu berhasil mendapat izin mendaki'
begitu pikirku. Maka malam ini kuajukanlah sebuah permintaan izin untuk pendakian
ke gede-pangrango. Pada awalnya perdebatan berjalan seperti biasa hingga
kemudian ibu mulai menangis. Sial, akupun mulai mengutuki diri dalam hati karena membuat airmatanya jatuh. Beliau terus bercerita di antara tangisnya.
Ibu menjelaskan
kondisinya yang semakin memburuk. Tentang paru-parunya yang mulai berlubang,
kondisi ginjalnya yang semakin parah, darahnya yang tak kunjung membaik, juga
tentang liver dan jantung yang bermasalah sejak ia lahir dan membuatnya baru
bisa berjalan di umur 3 tahun, bahkan beberapa kerabat dan dokter di keluarga
besar mengira bahwa ibuku tak kan bisa bertahan hingga usia remaja.
Aku tahu kondisimu
bu, dan kondisi dirimulah yang selalu menjadi pertimbangan utamaku dalam
berbagai hal. Aku kan hanya minta pergi selama beberapa hari, tidak terlalu
lama bukan?
Biasanya perdebatan
izin itu selalu seputar kekhawatiran orang tuaku mengenai kondisiku di sana
nantinya, sayangnya kali ini sungguh berbeda, aku salah dan kalah telak.
Katamu bu, dokter
beberapa kali menelponmu, mendesak untuk melakukan operasi lagi secepatnya,
begitu juga dengan bude dan bu dian, dua tetangga kita yang bekerja sebagai
perawat. Tapi kau selalu dengan tegas menolak usulan itu. Kau takut, takut
bahwa penghujung nyawamu justru berada di atas meja operasi, kau takut bahwa
kau tidak akan bisa melihat kami lagi, takut tidak bisa memasakkan makanan
untuk kami, takut tidak bisa menyambut kami ketika kami pulang ke rumah,
meskipun aku tahu menghabiskan sebagian besar umurmu berada di rumah sepanjang
hari rasanya pasti sungguh menjemukan.
Kenapa kau begitu takut?
Karena kau tahu
seberapa besar resiko operasi itu, resiko yang besar, sebanding dengan rasa
sakit yang selalu kau rasakan setiap harinya.
Dan kau telah memilih bu, untuk mempertahankan rasa sakit itu sebagai harga yang harus kau bayar bagi sebuah kebersamaan yang seringkali kami abaikan begitu saja. Kau tidak ingin
kehilangan sedikitpun waktu bersama kami. Bahkan di dalam doamu di setiap
malam, bukan kesembuhan yang kau pinta, doamu sederhana saja, hanya meminta
Tuhan membangunkanmu keesokan paginya
agar kau bisa kembali melihat kami. Itulah sebabnya setiap malam kau tak
juga bosan mengirimkan sms kepada sang adik kedua untuk pulang kerumah, itulah
sebabnya kau tak ambil pusing dengan orang-orang yang mengatakan bahwa kau
terlalu overprotektif kepada kami, itulah sebabnya kau tidak ingin aku
pergi mendaki gunung. Kau takut bu, takut ketika maut menjemputmu aku sedang tak ada
disampingmu, sama seperti saat maut menjemput nenek sedangkan aku terperangkap
dalam badai di merbabu. Kata-katamu merobohkan segala argumen yang telah
kupersiapkan.
Tidak, aku tidak
pernah memikirkan kemungkinan itu. Dan aku pasti tidak akan pernah bisa
memaafkan diriku sendiri jika itu terjadi padamu bu, tidak akan.
Suara lirihmu tidak
hanya membuatku segera mengambil keputusan untuk menghentikan aktifitasku yang
satu itu, tapi juga keputusan untuk menolak sebuah kemungkinan baru yang
ditawarkan untuk hidupku oleh seseorang yang tampak begitu sempurna. Tak lagi aku peduli dengan segala kemungkinan
buruk yang akan menimpaku jika aku menolak orang-orang semacam dia. Karena tanggung jawabku di sini bersamamu belum selesai.
kau selalu bersedia
untuk menanggung bisikan maut setiap harinya hanya untuk tetap bisa bersama kami,
maka aku juga takkan segan menanggung resiko apapun untuk bisa bersamamu selama
mungkin.
Bazooka Akbar
Anantama; salah seorang pendaki hebat yang kukenal pernah mengatakan
padaku,"Perjuangkan apa yang pantas diperjuangkan."
Dan bagiku, tidak
ada lagi yang lebih pantas untuk diperjuangkan selain dirimu ibu.
Tidak ada
lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar