Selasa, 04 Maret 2014

Berkaca pada Elegi Dalam Goa


Aku sebenarnya cukup menggambarkan perjalanan caving ke Goa Cikenceng hanya dalam beberapa kata, seperti salah satu ungkapan Dhaniswara Wiradharma (Ketua Departemen Penelitian KSG 2013), "Reality is not always what they seem."

Rasanya benar-benar gila. Tak menyangka bahwa aku dulu berani masuk ke goa yang bahkan lubang masuknya pun hanya mampu memuat satu orang. Dari lubang masuk harus meluncur turun dan melipir badan untuk akhirnya dapat menginjakkan kaki di dalam goa. 

Anjas Biki Lesmana, di pintu goa yang begitu sempit
(dok.Mochammad Mahdi)
Disana gelap gulita, tak ada cahaya matahari. Dan meskipun ada air yang mengalir di kaki kami, tetap saja udara terasa begitu tipis. Goa Cikenceng benar-benar berada di luar ekspektasi awalku. Dilihat dari lubangnya yang begitu kecil kukira goa itu hanyalah goa sempit yang memiliki panjang beberapa meter saja. Ternyata di dalam goa ada beragam jalur dan chamber (ruang lapang) yang juga bisa untuk mendirikan tenda karena letaknya yang berada di atas garis pasang maksimal air goa. Dari lubang masuk ke lubang keluar butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan.  

rest sejenak di dalam goa (atas-bawah, kanan-kiri:
mahdi, cholida, dhanis, dhani, anjas, ka ibni, putri, ifat, bang ibom, fusalit)
(dok.Mochammad Mahdi)  

 Daerah sekitar lubang masuk yang dipenuhi bebatuan kapur serta jauh dari sungai membuatku berpikir "Oh goanya paling kering", faktanya Goa Cikenceng merupakan goa horizontal yang bersisian dengan sungai sehingga ada jalur-jalur yang juga dilewati oleh aliran air. Batas maksimal pasang Goa Cikenceng bisa dilihat dari bekas garis yang dibentuk oleh aliran air tertinggi, dan itu dua meter. Ketika diberitahukan penjelasan tentang hal tersebut di dalam goa bulu kudukku langsung merinding. Tak terbayangkan bagaimana bila tiba-tiba hujan deras datang diluar sana dan membuat air menjadi pasang sedang kita masih berada di dalam sini.  Yang juga menarik di dalam goa adalah hewan-hewannya. Di dalam goa serangga-serangga menjadi tampak seperti hewan-hewan zombi ala barat. Ukuran yang besar dan antena panjang yang berumbai-umbai membuat serangga semakin terlihat mengerikan bagi orang-orang yang membencinya.

Jalur caving yang dilalui sungguh bukan main. Secara fisik mungkin memang tidak seberat sebuah pendakian di gunung-gunung dengan jalur pendakian yang berat, tapi tekanan mental saat caving di sini benar-benar tidak tergambarkan. Rasa takut, keraguan, khawatir , semua bercampur aduk dengan kondisi udara dingin yang menipis dan berbaur aroma guano yang menyesakkan. Lengkap sudah. 

Anjas Biki Lesmana, menatap jalur pendakian dlm goa (dok.Mochammad Mahdi)

M.Ramdhani Fajri, climbing di tengah air yang mengalir turun
(dok.Mochammad Mahdi)
Di sepanjang jalur, ada yang basah terendam air hingga selutut, ada juga tanah liat yang jika dilewati kaki kita akan tertanam hingga mata kaki. Yang paling tidak bisa dilupakan adalah jalur dimana kami harus melakukan dua kali climbing di tengah aliran air yang membentuk air terjun kecil, untunglah saat naik aliran air bisa dibendung bergantian dari atas oleh sahabat-sahabat yang telah naik terlebih dahulu. Ada juga jalur yang dinamai 'lubang rahim' yang benar-benar berupa lubang berdiameter kurang dari 60cm, sehingga untuk melewatinya kami harus tiarap sambil meliuk-liuk mengikuti jalur sepanjang beberapa meter. Tapi jalur yang tak terlupakan adalah jalur dimana semua terlihat buntu, tidak ada jalan keluar, hanya ada dinding buntu dengan genangan air hingga pinggang . . . . 

".....Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" [Qs.Al Baqarah:216]

...ternyata untuk bisa melanjutkan perjalanan kami harus menyelam melewati lubang yang berada di dalam air. Setelah jalur itu ada jalur terakhir yang membuat adrenalin tetap terpacu. Di tengah kegelapan dan di atas bebatuan licin, kami harus melipir (berjalan rapat) pada dinding goa dengan hati-hati karena di tepat di bagian bawah kami ada jurang yang begitu dalam bahkan hingga tak tampak dasarnya ketika disinari headlamp.

Ketika climbing, Ka ibni harus rela terkena limpasan air setiap ada yang selesai naik, Dhani harus merelakan celana jas hujannya yang robek saat merayap di lubang rahim, aku harus menenangkan diri begitu lama setelah tas kecilku tersangkut ketika menyelam, dan di jalur ini kejadiannya lebih tidak bisa dilupakan. Saat melipir di atas jurang tersebut, cholida terpeleset jatuh. Untunglah fusalit yang berada beberapa langkah di depan cholida segera menjatuhkan dirinya ke jurang dengan tetap menempelkan punggung di dinding goa, ketika menemukan pijakan ia segera menopang badannya dan langsung memasang kuda-kuda untuk menopang cholida di sepersekian detik berikutnya. Kejadiannya begitu cepat dan aku hanya bisa meneriakkan nama cholida.

Bersama tim, dekil maksimal sehabis keluar dari goa (dok.Mochammad Mahdi)
Di dalam goa kamera tidak bisa terus menerus digunakan dan di Goa Cikenceng memang tidak disarankan untuk membawa kamera sebenarnya. Untunglah kamera salah satu sahabat kami berhasil selamat dan ada beberapa dokumentasi yang sempat diabadikan.


Ketika keluar dari goa, yang tersisa hanyalah sebuah pertanyaan dalam benak,

"Menurutmu mengapa Allah menurunkan Al-Quran di dalam goa? Bukan di puncak gunung atau dipinggiran garis pantai?"

Menuju sungai untuk membersihkan diri (dok.Mochammad Mahdi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar