Kamis, 20 Februari 2014

Cerita lepas, Sepulang lelah

"Pelajaran itu bukan hanya bisa diambil dari perjalanan-perjalanan jauh yang memerlukan biaya. Asalkan kamu mau memperhatikan, kadang Tuhan juga menyelipkan salah satu pelajaran dari perjalanan singkat  rutinitasmu sehari-hari." (dr.Tiko S.Pa)

Akhirnya setelah sekian lama, aku baru paham mengapa ayah tak pernah mau membiarkanku pulang sendirian di tengah malam..
 ..........
Hari itu, malam masih terbilang pagi untukku. Jam baru menunjukkan pukul 20.20 ketika aku sampai di stasiun Depok. Entah mengapa, malam itu aku ingin pulang jalan kaki sendirian ke rumah. Tidak meminta untuk dijemput ataupun langsung naik ojeg dari stasiun. Sepanjang jalan aku larut dalam pikiranku sendiri, hingga tiba di sebuah pertigaan yang cukup gelap dan sepi.
Ada segerombolan remaja tanggung yang nongkrong-nongkrong di sebelah  kiri jalan. Baru beberapa langkah sebelum tepat di depan mereka, salah satu dari mereka yang bertopi merah berdiri dan menghampiriku...
"kok sendirian? Dianterin ya pulangnya?"
Aku hanya diam sambil tetap meneruskan langkah. Nanti juga kalo udah jauh dia berhenti sendiri, batinku. Tapi ternyata setelah melewati gerembolan mereka, semuanya berdiri dan mengikutiku sepanjang jalan. Rasanya seperti diarak-arak. Hahahha
"pulangnya kemana?" tanya si topi merah dengan gigih.
"bagi no hp dong" ucap si sweater biru yang berdiri di belakang.
"ga cape apa jalan sendirian? Dianterin naik motor ya?" kali ini yang paling jangkung yang angkat bicara.
Beberapa remaja tanggung lainnya hanya diam sembari mengikuti jejak langkahku yang tak sedikitpun kupercepat.
Aku hanya balas tersenyum, berusaha stay cool. Padahal dalam hati sudah mengumpat sedari tadi , 'Sialan, kalo Cuma satu dua tiga sii gapapa gw jabanin. Kalo segerombolan macem gini harus gimana gw?' aku berusaha memutar otak dengan keras sambil menggenggam erat tas laptop yang kujinjing. Jika terjadi sesuatu akan kuhajar mereka, kalau perlu pake laptop juga tak masalah.
"ayoo dong bagi no hpnya.." si sweater biru kembali mengulangi permintaanya. Karena tak sabar dan merasa di acuhkan dia mulai menepuk bahuku. Spontan aku mendelik ke arahnya dengan tatapan mengancam.
"heh colek-colek! Bukan muhrim tau!" tegur si topi merah.
"oia baru pulang sekolah ya? Sekolah dimana? Smansa?" lanjutnya lagi sambil menawarkan salah satu SMA unggulan di Depok sebagai opsi pilihan.
Mendengar reaksinya maka aku pun merasa mendapat celah, 'ini bocah topi merah masi sedikit tau diri kayaknya.'
Dengan cepat akupun segera menjawab dengan senyum sumringah,  "Di UI, trus rumahnya disana bareng sama bapak RT xx yang teman baiknya ustadz yyyy itu looh. Kalian kenal?".
Kaget mendengar jawabanku si topi merah langsung melompat mundur, "maaf ya kak, saya kira anak SMA tadi."
Segera ia memberi aba-aba pada temannya untuk berhenti menjajari langkahku.
"ah elah lo sih ga pinter-pinter liat cewe" gerutu sweater biru
"lo juga sama aja pake ikut ngejar-ngejar" bela si jangkung
Dan akhirnya aku bisa bernafas lega setelah mereka berhenti dan membiarkanku meneruskan perjalanan sendirian. 
'duuh dek, gw udah mau jadi tante-tante kali. Masih aja dikira anak sekolaan. Ckckckck'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar