"Pelajaran itu
bukan hanya bisa diambil dari perjalanan-perjalanan jauh yang memerlukan biaya.
Asalkan kamu mau memperhatikan, kadang Tuhan juga menyelipkan salah satu
pelajaran dari perjalanan singkat rutinitasmu sehari-hari." (dr.Tiko
S.Pa)
Akhirnya setelah
sekian lama, aku baru paham mengapa ayah tak pernah mau membiarkanku pulang
sendirian di tengah malam..
..........
Hari itu, malam
masih terbilang pagi untukku. Jam baru menunjukkan pukul 20.20 ketika aku
sampai di stasiun Depok. Entah mengapa, malam
itu aku ingin pulang jalan kaki sendirian ke rumah. Tidak meminta untuk
dijemput ataupun langsung naik ojeg dari stasiun. Sepanjang jalan aku
larut dalam pikiranku sendiri, hingga tiba di sebuah pertigaan yang cukup gelap
dan sepi.
Ada segerombolan
remaja tanggung yang nongkrong-nongkrong di sebelah kiri jalan. Baru beberapa langkah sebelum
tepat di depan mereka, salah satu dari mereka yang bertopi merah berdiri dan
menghampiriku...
"kok sendirian? Dianterin ya pulangnya?"
"kok sendirian? Dianterin ya pulangnya?"
Aku hanya diam
sambil tetap meneruskan langkah. Nanti juga kalo udah jauh dia berhenti
sendiri, batinku. Tapi ternyata
setelah melewati gerembolan mereka, semuanya berdiri dan mengikutiku sepanjang
jalan. Rasanya seperti diarak-arak. Hahahha
"pulangnya
kemana?" tanya si topi merah dengan gigih.
"bagi no hp
dong" ucap si sweater biru yang berdiri di belakang.
"ga cape apa
jalan sendirian? Dianterin naik motor ya?" kali ini yang paling jangkung
yang angkat bicara.
Beberapa remaja
tanggung lainnya hanya diam sembari mengikuti jejak langkahku yang tak
sedikitpun kupercepat.
Aku hanya balas
tersenyum, berusaha stay cool. Padahal dalam hati sudah mengumpat sedari tadi ,
'Sialan, kalo Cuma satu dua tiga sii gapapa gw
jabanin. Kalo segerombolan macem gini harus gimana gw?' aku berusaha
memutar otak dengan keras sambil menggenggam erat tas laptop yang kujinjing.
Jika terjadi sesuatu akan kuhajar mereka, kalau perlu pake laptop juga tak
masalah.
"ayoo dong bagi
no hpnya.." si sweater biru kembali mengulangi permintaanya. Karena tak
sabar dan merasa di acuhkan dia mulai menepuk bahuku. Spontan aku mendelik ke
arahnya dengan tatapan mengancam.
"heh
colek-colek! Bukan muhrim tau!" tegur si topi merah.
"oia baru
pulang sekolah ya? Sekolah dimana? Smansa?" lanjutnya lagi sambil
menawarkan salah satu SMA unggulan di Depok sebagai opsi pilihan.
Mendengar reaksinya
maka aku pun merasa mendapat celah, 'ini bocah
topi merah masi sedikit tau diri kayaknya.'
Dengan cepat akupun
segera menjawab dengan senyum sumringah,
"Di UI, trus rumahnya disana bareng sama bapak RT xx yang teman
baiknya ustadz yyyy itu looh. Kalian kenal?".
Kaget mendengar
jawabanku si topi merah langsung melompat mundur, "maaf ya kak, saya kira
anak SMA tadi."
Segera ia memberi
aba-aba pada temannya untuk berhenti menjajari langkahku.
"ah elah lo sih
ga pinter-pinter liat cewe" gerutu sweater biru
"lo juga sama
aja pake ikut ngejar-ngejar" bela si jangkung
Dan akhirnya aku
bisa bernafas lega setelah mereka berhenti dan membiarkanku meneruskan
perjalanan sendirian.
'duuh dek, gw udah mau jadi tante-tante kali. Masih
aja dikira anak sekolaan. Ckckckck'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar