Sabtu, 14 September 2013

Gunung Gede, 2.958 mdpl

Belajar Mendaki, Belajar tentang Persiapan

Pendakian pertama bersama rombongan besar, 3 kelompok jalan dengan 21 orang dalam rombongan. Pilihan pendakian jatuh di Gunung Gede, karena katanya merupakan gunung yang baik untuk pemula (tapi berdasarkan pertimbangan pribadi akan bijak rasanya jika papandayan lebih dipertimbangkan sebagai gunung pertama untuk pemula). Untunglah sebagian dari kami adalah orang-orang yang telah berpengalaman mendaki dengan baik, seperti bazooka (mapala ui), agri-arma-diba-gibran (GMC ui) dan erni (sispala). Tentu saja sebagai teman seperjalanan yang baik, sejak jauh-jauh hari kamu telah diberi wejangan dan pelatihan singkat oleh mereka.



           Tim 2 dan 3, rest sejenak di pos 1 (atas-bawah, kanan-kiri, okky, acep, dhanis,, anjas, arma, ajeng, aini, mifa, diba, asep dan ari) (dok.Dibba Reymita)

Ternyata mendaki gunung memang lebih dari sekedar destinasi wisata biasa. Persiapannyapun tak bisa dibilang sembarangan. Beberapa hal yang disebutkan dibawah ini harus dipersiapkan dengan baik:

  1. Kenali Tujuanmu
Ada pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang. Nah kalau untuk mendaki, pepatah berganti. Tak kenal maka tak selamat. Selamat di sini maksudnya bukan berarti harus kehilangan nyawa, namun lebih diartikan seperti mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi sebelum mendaki alangkah baiknya kita mengenal karakteristik gunung tujuan kita agar dapat menyesuaikan segala persiapan dengan sebaik mungkin.

  1. Fisik
Biasanya jogging adalah cara yang paling mudah untuk mempersiapkan fisik. Eits, jogging yang dilakukan juga bukan sembarang jogging loh. Jogging juga sebaiknya diikuti dengan pertambahan jarak secara bertahap. Frekuensinya juga ditambah seiring mendekatnya hari keberangkatan. Tapi ingat, h-2 tubuh kita tetap harus diistirahatkan jadi tidak disarankan untuk melakukan aktifitas fisik yang berat. Oia, hal lain yang juga perlu diingat, “jogging sebaiknya dilakukan perkelompok, supaya kita bisa tau gimana kapasitas teman-teman seperjalanan kita nanti, jadi pengaturan posisi jalan bisa lebih mudah dan efektif.” Dwi frasti Agriani (Ketua GMC ui 2013).  Nahloh, apa tuh pengaturan posisi jalan? Pengaturan posisi jalan itu adalah pemilihan orang-orang yang diatur dalam barisan kelompok ketika mendaki, yang pertama disebut leader, yang terakhir disebut sweapper (cuma orang paling sabar yang bisa jadi sweaper sejati. Hehehe). Sedangkan diantara keduanya diletakkan orang-orang yang berselang-seling ketahanan fisiknya. Sepanjang perjalanan sweaper harus memastikan bahwa tidak ada satu orangpun dalam kelompok yang tertinggal di belakang, leader juga harus dapat mengatur ritme jalan dengan baik, begitu juga dengan orang-orang diantara mereka yang harus memastikan bahwa ia masih dapat melihat teman di depan dan di belakangnya, atau paling tidak mendengar dan menjawab panggilan teriakannya. Ini penting looh, serius. Karena diperjalanan pulang ketika komunikasi dan koordinasi terputus, dua orang teman dalam rombongan kami sempat terpisah dan nyasar, alhamdulillahnya mereka dapat menemujan jalan dan kembali ke jalur yang benar.

  1. Barang dan Perlengkapan
Ketika mendaki, banyak yang harus dipersiapkan memang. Mulai dari barang bawaan pribadi (baju ganti, sleaping bag, matras, headlamp, air, obat pribadi, jaket, raincoat, dll) dan barang bawaan kelompok (tenda, bahan dan alat masak, trash bag untuk sampah, dll). Yang harus diperhatikan adalah ketika melakukan packing, baju-baju dan sleeping bag yang dibawa harus dibungkus dengan plastic dan bagian dalam carier dilapisi trashbag sebelum packing (jadi semua barang nantinya ada di dalam trashbag). Ini dilakukan untuk menjaga baju dan barang-barang kita tetap kering. Jangan lupa loh, barang pribadi minimal seperti yang disebutkan di atas itu harus dibawa karena jika tidak maka akan merugikan kita sendiri dan merepotkan teman perjalanan kita nantinya. 

  1. Izin
           Bagaimanapun juga mendaki gunung bukanlah kegiatan yang dapat
           dipastikan aman, jadi sebelum melakukan pendakian jangan lupa untuk 
           berpamitan dan meminta izin pada keluarga.

Ada aturan-aturan dasar yang harus dipatuhi ketika mendaki, seperti tidak boleh tidur atau buang air di jalur pendakian, tidak boleh buang sampah dan kita juga wajib bersikap ramah terhadap pendaki lainnya. Pulang dari perjalanan mendaki gunung kau pasti akan punya banyak cerita. Kata M.Gibran Khalil (Ketua UKOR fmipa ui 2013), "Di perjalanan naik gunung itu, kita jadi bisa tau watak asli temen-temen kita gimana. Bakal ketauan aslinya dia."

Selain itu, jika kamu mau belajar 'membaca', kamu akan punya banyak hal yang baik untuk dirimu sendiri setelah pendakian. Akan ada banyak hal yang bisa kamu pelajari dan membuatmu berubah menjadi lebih baik, karena sejatinya itulah esensi dari sebuah perjalanan (bagiku).
"Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya..." [QS.Al Mulk:15]


 
Padang Rumput, Perjalanan Menuju Puncak (dok.Dibba Reymita)


 
Puncak Gede, bersama Ajeng Dewi Andini (dok.Dibba Reymita)

Untuk apa mendaki gunung? kan bisa pergi ke pantai, hutan atau kota lain? Pertanyaan itulah yang selalu membekas dalam kepalaku. Terngiang-ngiang bersama gaungan teriakan rayuan semilir angin lereng. Untuk apa? Untuk sekedar berekreasi? Untuk menunjukkan ketangguhan dirimu? Atau sebagai opsi yang menghindarkanmu dari rutinitas membosankan?

“naik gunung itu bukan hal yang dianjurin sama Rasulullah, tau kenapa? Karena di sana itu perjalanan menantang maut. Kalo ga ada kesiapan, ga mau nurut aturan, atau ke sana cuma buat tujuan yang gitu-gitu aja, mending ngga usahlah pake naek-naek gunung segala. Jadi banyak mudharatnya ntar.” Anjas biki Lesmana (Kepsek rupin KSE 2012-2013)

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya...." [QS.Al Israa':36]


                                                                    "Gunung Gede, awal 2011"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar