Aku memberikan kesan bahwa aku tenteram, bahwa semuanya beres, baik di dalam batin maupun lingkunganku, bahwa kepercayaan diri adalah ciri-ciriku dan sikap tenang adalah kebiasaanku, bahwa perairannya tenang dan bahwa akulah yang memegang kendali dan aku tidak butuh siapapun.
Tetapi jangan percaya. Kumohon.
Aku ngobrol santai denganmu dengan nada basa-basi. Aku katakan segalanya yang sebenarnya tidak ada artinya, yang sama sekali lain daripada seruan hatiku.
Jadi, kalau aku sedang berceloteh, jangan terkecoh oleh apa yang kuucapkan. Tolong dengarkan dengan seksama dan berusahalah mendengar apa yang tidak kuucapkan. Apa yang ingin dapat kuucapkan. Apa, demi keselamatan, yang perlu kuucapkan tetapi tidak bisa.
Aku tidak suka bersembunyi. Sejujurnya lho, aku tidak suka permainan basa-basi yang kumainkan ini.
Sebenarnya aku ingin tulus, spontan dan menjadi diriku sendiri. Tetapi kamu harus menolong aku. Kamu harus menolong aku dengan mengulurkan tanganmu. Sekalipun kelihatannya aku tidak menginginkannya atau membutuhkannya.
Setiap kali kamu bersikap baik serta lembut dan memberikan dorongan, setiap kali kamu berusaha mengerti karena kamu sungguh peduli, hatiku bersayap. Sayap kecil sih, sayap lemah sih, tetapi pokoknya bersayap.
Dengan kepekaanmu dan simpatimu serta daya pengertianmu, aku bisa menanggung semuanya. Kamu bisa menghembuskan nafas kehidupan ke dalam diriku. Pasti tidak mudah bagimu. Keyakinan akan ketidakberhargaan yang sudah lama pasti membangun dinding yang kuat.
Tetapi kasih itu lebih kuat daripada dinding yang kuat dan disanalah letaknya pengharapanku. Tolong usahakan untuk merubuhkan dinding itu dengan tangan-tangan yang kokoh, tetapi lembut, karena seorang anak itu peka, dan aku ini anak-anak.
Siapa sih aku? Mungkin kamu bertanya-tanya. Karena aku adalah setiap pria, setiap wanita, setiap anak-anak, setiap manusia yang kamu temui.
~The 7 Habits of Highly Effective Teens, Sean Covey
Tidak ada komentar:
Posting Komentar