Dalam perjalanan
pulang, aku bertemu dengan beberapa orang yang tak dikenal. Terjebak berada
diantara mereka selama beberapa saat dan mendengar selentingan perkataan dari
salah satu perempuan disana, "Iyalah gue juga mau cantik. Harus
malah."
Impulsku langsung
bekerja dan memunculkan pertanyaan dalam benak,
"Sebenarnya cantik itu apa sih?"
"Sebenarnya cantik itu apa sih?"
Absurd. Ya, sejak
dulu hingga pertanyaan itu benar-benar mengusik, aku belum bisa menemukan definisi yang
menurutku bisa mewakili. "Cantik
itu seperti bilangan cacah diantara 0 dan 1, jumlahnya tak hingga. Itulah
cantik yang memberikan makna tak hingga dan melekat dalam history." (Ayah Dayu)
Sebuah kata yang
seringkali sulit mendapatkan pengakuan jujur seperti jawaban uda,
"Cantik yaa tentang fisik, semua
orang juga udah tau yang begitu."
"...tapi bukan
itu yang membuatnya menarik." (Mas Pram)
Lalu apa?
Munculah jawaban
lain yang beragam, seolah menunjukkan bahwa cantik itu ngga sekedar fisik. Sayangnya bagiku jawaban yang terlontar masih membentuk sebuah
sekat dan batasan yang sempit sebab hanya diwakili oleh satu dua kata yang mampu diartikan secara hampir pasti dalam persepsi komunal, seperti; pintar,
sederhana, lembut, baik hati, anggun, sabar. Yaa intinya tetep harus begini
begitu toh.
Tidak salah memang,
mungkin aku yang banyak bertanya, terlampau sok tau. Untungnya ego sudah
cukup puas dengan jawaban Mega malam itu, "Seorang perempuan menjadi
menarik ketika ia bisa menaikan atensi orang lain terhadap dirinya."
Bagaimana caranya?
"Kalau itu masalah
selera" (Mas Pram)
Karena ternyata cantik bukanlah sebuah kata dengan definisi pasti, ia bagian dari persepsi. Bukan sebuah pertanyaan, ia adalah jawaban. Kesimpulan akhir yang menenangkan, semoga tidak salah menyimpulkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar