"You are very special, but i'm a creep, i'm a weirdo. i wanna perfect body, i wanna perfect soul. What am i doing here? i don't belong here..."
(lirik lagu, Radio Head)
Saat hatiku penuh perasaan buruk karena
tak dapat pergi ke Gunung Slamet, aku memutuskan untuk memulai perjalanan yang
satu ini, ke Pulau Tidung Kecil. Menyebalkan rasanya tidak dapat ikut sebuah
perjalanan karena kata-kata "kamu belum siap ai untuk pergi ke sana
sekarang." heii man! What's wrong with me?!
Dan disinilah aku, memulai sebuah
perjalanan untuk belajar mencari makna di hamparan laut biru. Dimulai dari
muara angke yang tampak bak lukisan penggambaran sempurna ketimpangan sosial di
ibukota negaramu, Jakarta. Pelabuhan kumuh dengan latar gedung-gedung mewah
pencakar langit.
Suasana Muara Angke Pagi Hari (dok.M.Ramdhani Fajri)
Menunggu keberangkatan minus wa aji a.k.a anjas, yg ngambil gambar (Ki-ka: Dhani, Babas, Dhanis, Aini, Vivi, Princes a.k.a putri) (dok.M.Ramdhani Fajri)
Pulau Tidung sendiri merupakan serangkaian dua pulau dalam gugusan kepulauan seribu, terdiri dari Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil yang dihubungkan dengan jembatan cinta. Kami memilih mendirikan camp di Pulau Tidung Kecil yang jauh dari hiruk pikuk wisatawan di Tidung Besar.
Jembatan Cinta, penghubung Pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil (dok.M.Ramdhani Fajri)
Selepas
sampai dan mendirikan tenda, tanpa sepengetahuanku dhanis, babas, dhani dan wa
aji pergi menangkap ikan di perairan lepas pantai. Pintar juga mereka menangkap
ikan-ikan yang berenang dengan gesit, tidak seperti aku yang hanya bisa bermain
air dan berenang. Hahahha
Menangkap Ikan di dalam Jala (dok.M.Ramdhani Fajri)
Lagi-lagi, mulailah kebiasaan jelekku
untuk membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. "i caught up in comparing
myself to others. It doesn't matter whether you think too much or too little of
yourself. Either way, you still lose." (film Doogie Houser MD)
Come on ai, setiap orang istimewa dengan
caranya masing-masing. Mereka tidak akan pernah bisa saling menyamai satu sama
lain, begitu juga denganmu. Dengan bisa saling menerima dan saling
melengkapi, semua pasti bisa lebih sempurna. Seperti proses siang itu, ada yang
menangkap ikan, ada yang membersihkan ikan dan memasak, ada yang menyalakan
bara. Tidak semua orang melakukan semua proses, tapi setiap orang melakukan
prosesnya masing-masing, dengan satu tujuan, mendapatkan ikan dan cumi bakar
gratis di Pulau Tidung. #ups
Bakar ikaaaan (dok.M.Ramdhani Fajri)
Ikan dan Cumi Hasil Bakaran (dok.M.Ramdhani Fajri)
Ada yang bilang, orang-orang yang suka main ke pantai berbeda
dengan orang-orang yang suka main ke gunung. Mungkin benar. Sayangnya, aku
lebih setuju dengan nasihat sahabatku yang menenangkanku karena marah tak
diizinkan ikut dalam perjalanan ke Gunung Slamet tahun itu, Karam a.k.a Aram, "Kamu juga
tau kan, perjalanan itu bukan hanya tentang gunung, bukan hanya tentang dengan
siapa kamu berjalan. Perjalanan itu tentang bagaimana hati kamu memaknai
hal-hal yang terlintas di sekitarmu. Jika kamu memang tertakdir menginjakkan
kaki ke sana, tidak ada yang dapat menghalangi, ini hanya masalah waktu"
Malam, di Pulau Tidung Kecil yang tanpa
penerangan aku mulai bertanya-tanya dalam hati. Jika aku terbiasa belajar
banyak dari sebuah pendakian, mengapa aku tidak mampu belajar banyak dari
perjalanan kali ini?
"Tidakkah engkau
memperhatikan bahwa Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan kapal
yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya, dan Dia menahan langit agar tidak
jatuh ke Bumi, melainkan dengan izin-Nya?...”
[QS.Al-Hajj:65]
Gunung tidak akan tampak berdiri kokoh tanpa
adanya lautan. Teringat dengan filosofi budaya topografi sunda, dimana hulu
sungai (gunung) diidentifikasikan sebagai hati (tempat suci), hilir sungai
(pantai) diidentifikasikan sebagai kaki (perekonomian), dan dataran rendah
diantara keduanya diidentifikasikan sebagai kepala (pemerintahan). Dimanapun
tempatnya, sejatinya selalu berikatan satu sama lain dan istimewa dengan
karakteristiknya masing-masing, hanya jika kau mampu memaknainya tentu saja.
Bersama Putri Mardina (dok.Vivi Nurul S.H)
Main aiir di laut (dok.Vivi Nurul S.H)
Karang di barat Pulau Tidung Kecil (dok.M.Ramdhani Fajri)
Karang di timur Pulau Tidung Kecil (dok.M.Ramdhani Fajri)
Karang di selatan Pulau Tidung Kecil (dok.M.Ramdhani Fajri)
Dalam perjalanan kali ini, saat melihat sunset diantara semilir angin sore, aku kembali bertanya. Di gunung, aku menjadi merasa sangat dekat dengan Tuhan. Apalagi jika mendaki dengan Bang Jend, teman sependakianku yang sangat filosofis dan selalu melakukan qiyamul lail sebelum summit dengan mengeraskan bacaan qur’annya yang tartil. Apa di sini aku juga merasakan keberadaan-Nya?
Sunset dari jembatan cinta (dok.Vivi Nurul S.H)
Tak ada lagi
yang perlu aku khawatirkan. Dengan perjalanan di pulau kecil yang sepi dan tanpa
fasilitas ini aku baru benar-benar dapat memahami bahwa melihat, membaca dan belajar
tidak hanya berdasarkan mata, telinga dan akal, tapi juga hati. Membuka mata
hati untuk sebuah cara pemikiran dan pembelajaran yang baru memang bukan hal
yang mudah, namun tetap saja bisa dilakukan. Biarkan birunya lautan
yang menjadi saksi bisu atas proses pembelajaranku kali ini.
Pulang, kembali ke rutinitas (dok.M.Ramdhani Fajri)
"Pulau Tidung Kecil, 2012"


Tidak ada komentar:
Posting Komentar