Minggu, 12 Januari 2014

Sedikit Catatan dari Pulau Tidung Kecil


"You are very special, but i'm a creep, i'm a weirdo. i wanna perfect body, i wanna perfect soul. What am i doing here? i don't belong here..."
(lirik lagu, Radio Head)

Saat hatiku penuh perasaan buruk karena tak dapat pergi ke Gunung Slamet, aku memutuskan untuk memulai perjalanan yang satu ini, ke Pulau Tidung Kecil. Menyebalkan rasanya tidak dapat ikut sebuah perjalanan  karena kata-kata "kamu belum siap ai untuk pergi ke sana sekarang." heii man! What's wrong with me?! 

Dan disinilah aku, memulai sebuah perjalanan untuk belajar mencari makna di hamparan laut biru. Dimulai dari muara angke yang tampak bak lukisan penggambaran sempurna ketimpangan sosial di ibukota negaramu, Jakarta. Pelabuhan kumuh dengan latar gedung-gedung mewah pencakar langit.

 Suasana Muara Angke Pagi Hari (dok.M.Ramdhani Fajri)

 Menunggu keberangkatan minus wa aji a.k.a anjas, yg ngambil gambar (Ki-ka: Dhani, Babas, Dhanis, Aini, Vivi, Princes a.k.a putri) (dok.M.Ramdhani Fajri)

Pulau Tidung sendiri merupakan serangkaian dua pulau dalam gugusan kepulauan seribu, terdiri dari Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil yang dihubungkan dengan jembatan cinta. Kami memilih mendirikan camp di Pulau Tidung Kecil yang jauh dari hiruk pikuk wisatawan di Tidung Besar.

Jembatan Cinta, penghubung Pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil (dok.M.Ramdhani Fajri)

Selepas sampai dan mendirikan tenda, tanpa sepengetahuanku dhanis, babas, dhani dan wa aji pergi menangkap ikan di perairan lepas pantai. Pintar juga mereka menangkap ikan-ikan yang berenang dengan gesit, tidak seperti aku yang hanya bisa bermain air dan berenang. Hahahha

Menangkap Ikan di dalam Jala (dok.M.Ramdhani Fajri)

Lagi-lagi, mulailah kebiasaan jelekku untuk membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. "i caught up in comparing myself to others. It doesn't matter whether you think too much or too little of yourself. Either way, you still lose." (film Doogie Houser MD
Come on ai, setiap orang istimewa dengan caranya masing-masing. Mereka tidak akan pernah bisa saling menyamai satu sama lain, begitu juga denganmu. Dengan bisa saling menerima dan saling melengkapi, semua pasti bisa lebih sempurna. Seperti proses siang itu, ada yang menangkap ikan, ada yang membersihkan ikan dan memasak, ada yang menyalakan bara. Tidak semua orang melakukan semua proses, tapi setiap orang melakukan prosesnya masing-masing, dengan satu tujuan, mendapatkan ikan dan cumi bakar gratis di Pulau Tidung. #ups

Bakar ikaaaan (dok.M.Ramdhani Fajri)

 Ikan dan Cumi Hasil Bakaran (dok.M.Ramdhani Fajri)

Ada yang bilang, orang-orang yang suka main ke pantai berbeda dengan orang-orang yang suka main ke gunung. Mungkin benar. Sayangnya, aku lebih setuju dengan nasihat sahabatku yang menenangkanku karena marah tak diizinkan ikut dalam perjalanan ke Gunung Slamet tahun itu, Karam a.k.a Aram, "Kamu juga tau kan, perjalanan itu bukan hanya tentang gunung, bukan hanya tentang dengan siapa kamu berjalan. Perjalanan itu tentang bagaimana hati kamu memaknai hal-hal yang terlintas di sekitarmu. Jika kamu memang tertakdir menginjakkan kaki ke sana, tidak ada yang dapat menghalangi, ini hanya masalah waktu" 

Dhani, bersantai menunggu senja (dok.M.Ramdhani Fajri)

Malam, di Pulau Tidung Kecil yang tanpa penerangan aku mulai bertanya-tanya dalam hati. Jika aku terbiasa belajar banyak dari sebuah pendakian, mengapa aku tidak mampu belajar banyak dari perjalanan kali ini? 
"Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan kapal yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya, dan Dia menahan langit agar tidak jatuh ke Bumi, melainkan dengan izin-Nya?...” 
[QS.Al-Hajj:65]
Gunung tidak akan tampak berdiri kokoh tanpa adanya lautan. Teringat dengan filosofi budaya topografi sunda, dimana hulu sungai (gunung) diidentifikasikan sebagai hati (tempat suci), hilir sungai (pantai) diidentifikasikan sebagai kaki (perekonomian), dan dataran rendah diantara keduanya diidentifikasikan sebagai kepala (pemerintahan). Dimanapun tempatnya, sejatinya selalu berikatan satu sama lain dan istimewa dengan karakteristiknya masing-masing, hanya jika kau mampu memaknainya tentu saja.

Bersama Putri Mardina (dok.Vivi Nurul S.H)

Main aiir di laut (dok.Vivi Nurul S.H)

 Karang di barat Pulau Tidung Kecil (dok.M.Ramdhani Fajri)

Karang di timur Pulau Tidung Kecil (dok.M.Ramdhani Fajri) 

Karang di selatan Pulau Tidung Kecil (dok.M.Ramdhani Fajri)

Dalam perjalanan kali ini, saat melihat sunset diantara semilir angin sore, aku kembali bertanya. Di gunung, aku menjadi merasa sangat dekat dengan Tuhan. Apalagi jika mendaki dengan Bang Jend, teman sependakianku yang sangat filosofis dan selalu melakukan qiyamul lail sebelum summit dengan mengeraskan bacaan qur’annya yang tartil. Apa di sini aku juga merasakan keberadaan-Nya? 

Sunset dari jembatan cinta (dok.Vivi Nurul S.H)

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat ….” [QS.Al Baqarah: 186]

Tak ada lagi yang perlu aku khawatirkan. Dengan perjalanan di pulau kecil yang sepi dan tanpa fasilitas ini aku baru benar-benar dapat memahami bahwa melihat, membaca dan belajar tidak hanya berdasarkan mata, telinga dan akal, tapi juga hati. Membuka mata hati untuk sebuah cara pemikiran dan pembelajaran yang baru memang bukan hal yang mudah, namun tetap saja bisa dilakukan. Biarkan birunya lautan yang menjadi saksi bisu atas proses pembelajaranku kali ini.

 Pulang, kembali ke rutinitas (dok.M.Ramdhani Fajri)


                                                                                  "Pulau Tidung Kecil, 2012"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar