Rabu, 02 Oktober 2013

Merbabu, Tentang Sebuah Perjalanan Hati


Jangan pergi. Itulah kata-kata yang diucapkan sahabatku ketika kukatakan aku ingin pergi ke Gunung Merbabu, sebuah gunung dengan ketinggian 3.145 mdpl dan terletak di dua wilayah administrasi yang berbeda. Solo dan Semarang.  "Lo gila ya ai?! Kemaren abis futsal, trus belum tidur sama sekali, paginya renang dan siang ini lo berangkat naek? Mati aja lo." Aku hanya tertawa mendengar sumpah serapahnya. Sejujurnya, ragu memang untuk meneruskan rencana ini. Tapi aku tahu aku tidak bisa mundur. Seperti semua perjalanan ku yang lain, aku memiliki misi yang harus diselesaikan. Ada hal yang harus aku lakukan, ada ketakutan yang harus aku taklukan. Jalur pendakian yang akan kami lewati adalah jalur dengan karakteristik bentukan yang mirip dengan jalur di gunung setan, tempat dimana aku hampir mati. Aku takut, ragu dan sedang dalam kondisi yang tidak fit. Hanya salah satu ucapan Abdul Choliq (Ketua Angkatan Matematika ui 2010) yang aku pegang untuk meneguhkan langkahku kali ini, "Manusia tidak akan mengetahui kekuatan maksimalnya sampai ia berada dalam kondisi dimana ia dipaksa kuat untuk bertahan."

Basecamp awal pendakian (atas-bawah, kanan-kiri: om way, bang her, dery, dedew, ridha)

Sampai di entry point, kabut mulai turun dan belum lagi berjalan lebih dari 1 km, gerimis mengguyur. Lucu rasanya melihat salah satu teman seperjalanan kami menggunakan payung saat mendaki karena tidak membawa raincoat dan tidak ada teriakan-teriakan koordinasi untuk menjaga ritme pendakian. Aneh memang, mungkin hanya belum terbiasa dengan kelompok jalan yang punya gaya pendakian berbeda.

Bersama tim di pos 1

Sepanjang perjalanan mendaki aku harus benar-benar berhadapan dengan ketakutanku sembari berusaha tetap tersenyum dan stay cool. Jenis tanah, bentuk medan dan vegetasi di jalur itu benar-benar serupa dengan jalur dimana aku pernah tergelincir jatuh ke lereng dan membuat tulang tangan serta kakiku bergeser, bahkan di jalur ini juga sama-sama ada pohon tumbang yang menghalangi jalur, dengan kondisi cuaca yang persis serupa pula.
Aku tak mau mati…
Aku tak mau mati…
Aku tak mau mati…
Hanya kata-kata itu yang selalu kudengungkan di kepala. Ingin menangis dan merengek pulang, untunglah aku masih tahu diri. Aku takkan kalah dengan ketakutanku. Aku ke sini untuk menaklukkan rasa takut dan menginjakkan kakiku di sabana. Sungguh bersyukur sweaper kami, bang her, dikaruniai kesabaran yang luar biasa menghadapi orang yang berjalan perlahan dalam ketakutannya sendiri seperti aku. Dan ada dedew yang selalu menoleh ke belakang untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

Mulai dari awal pendakian, hujan tak kunjung berhenti meledek kami. Awalnya kecil, kemudian berhenti, lalu tiba-tiba turun dengan sangat deras ketika melewati padang ilalang. Barisan berantakan, kaki leader kami kram dan rombongan mulai terpisah. Hujan yang deras, dingin yang menggigit, ketakutan yang mengukung. Tuhaaaaan, aku tak mau mati!!

Di sinilah aku belajar dan benar-benar merasakan, bahwa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan, yang kita anggap buruk belum tentu berdampak negatif. Saat itu ketika langkahku sudah sungguh semakin berat, kondisi tim yang sudah tidak dalam kondisi optimal justru memacuku untuk terus memaksa kaki ini melangkah. Ketika ku mohon kepada Allah kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar menjadi kuat. Ketika ku mohon kepada Allah bantuan, Allah memberiku kesempatan.
Tempat kami mendirikan tenda, di lembah di bawah pos watu tulis

Begitupun saat kudengar kabar bahwa nenek meninggal di waktu yang sama ketika aku sedang terperangkap dalam tenda di tengah badai, dimana seharusnya kami sudah dalam perjalanan kereta menuju Depok. Aku terus menerus mengutuk dan mempersalahkan semuanya, kembali membenci gunung yang baru saja tampak bersahabat.

Butuh waktu yang lama bagiku untuk merenungkan semuanya. Baru kali ini kurasakan melakukan evaluasi perjalanan menjadi hal yang sangat menguras emosi. Berusaha menebak tabir dalam rencana Tuhan bukanlah sebuah perkara mudah, hingga akhirnya yang bisa kulakukan hanyalah percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah merencanakan suatu keburukan untuk hidupku.
Tidak semua yang kupinta dapat kuterima, tapi aku selalu menerima semua yang aku butuhkan.
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesengguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."
[QS.Al Hadid:22]
Sunrise di Watu Tulis


                                                                                         
"Merbabu, awal tahun 2013"

Butuh sebuah catatan untuk perencanaan perjalanan? Silahkan kunjungi blog salah satu sahabat kami di http://untukmuilmu.blogspot.com/2013/08/merbabu-awal-sebuah-cerita-bag-1.html

1 komentar:

  1. yang ini bagus: "Manusia tidak akan mengetahui kekuatan maksimalnya sampai ia berada dalam kondisi dimana ia dipaksa kuat untuk bertahan."

    BalasHapus