Kamis, 19 September 2013

Menghitung Jejak


Bukankah manusia memang seringkali tak dapat menangkap skenario Tuhan?
Yang bisa ia lakukan hanyalah sebatas percaya dan berprasangka.
Lalu diantara keduanya, kau akan membiarkan dirimu melalui proses yang mana?

Percaya itu mudah, tapi meyakinkan itu menjadi sulit.
Selalu seperti itu.
Bodoh.
Perjalananmu tak lagi membentuk siapa dirimu.
Harus ada yang dievaluasi, karena tentunya ada yang salah.

Aku tak menginginkan dirimu berakhir seperti ini.
Disisi lain sekalipun aku juga tak menginginkanmu berhenti di sini.

Aku tahu kau akan sangat merindukannya.

Merindukan bahasa kematian yang dibisikkan gunung-gunung,
merindukan kegelapan dan tekanan yang dihempaskan goa-goa,
juga merindukan bahasa ibu yang terhampar pada samudera,
dan yang akan sangat kau rindukan,
tentu saja cahaya Tuhan yang terbaur pada langit.

Kau bisa gila jika benar-benar berhenti.

Tuhan tidak pernah salah.
Hanya kau saja yang belum memahami,
belum mau menerima dan mengerti,
belum mampu mengeja bahasa semesta.

Yang bisa kau lakukan hanya percaya.
Lagi dan lagi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar