Wajahnya memang tak
rupawan, tapi tak dapat dipungkiri pula bahwa ia memiliki rupa yang sungguh
manis. Tak heran bila banyak wanita yang jatuh hati padanya. Jika dia mau,
mantan pacarnya bisa lebih dari hitungan jari atau bahkan mungkin sudah
sebanyak itu.
Bagaimana tidak, dia
besar dilingkungan yang penuh dengan perempuan. Segala hal yang berhubungan
dengan makhluk hawa yang satu itu tentulah dia sudah gape diluar kepala.
Ditambah pula dengan tubuh yang tinggi dengan postur tegap, mengendarai motor,
menguasai tifan, jago memasak, mahir bermain gitar dan keyboard, juga memiliki
suara emas. Lengkap nian sudah.
Tentu saja tak ada
gading yang tak retak, begitupun dengan aku dan dia. Aku senang membaca, tapi
bagi dia membaca justru hanya membuang waktu. Dia lebih banyak belajar dari
kehidupan lewat dunianya sendiri, bukan dari lingkungan akademik maupun
lingkaran pengajiannya.
Kami tumbuh bersama.
Usianya yang memang terpaut 2 tahun lebih muda terkadang justru membuat dirinya
tampak lebih dewasa dari diriku. Masih terbayang jelas dalam benakku ketika
kami kecil dan bermain bersama, aku selalu mengatakan "Aku mau jadi laki-laki!"
dan dia selalu mencari tempat yang lebih tinggi untuk kemudian berdiri di sana
dengan berkacak pinggang, "Jadi laki-laki itu ga gampang."
Dia benar, dari kecil hingga sekarang, baru dapat kusadari bahwa menjadi seorang laki-laki tidak semudah yang aku bayangkan. Memang tidak perlu melahirkan atau mengurus keluarga, tetapi rasa tanggung jawab dan kemampuan mengayomi serta kapabilitas sebagai sandaran jelas bukan perkara mudah. Begitupun dengan dia.
Dia bukan lagi anak kecil yang sama, yang bermain bersamaku di comberan samping rumah belasan tahun silam, yang datang menangis dengan ingus berceceran sambil mengadu sehabis dijahili oleh temannya. Entah sejak kapan, dia telah tumbuh dan berkembang lebih dari yang kusadari.
Dia benar, dari kecil hingga sekarang, baru dapat kusadari bahwa menjadi seorang laki-laki tidak semudah yang aku bayangkan. Memang tidak perlu melahirkan atau mengurus keluarga, tetapi rasa tanggung jawab dan kemampuan mengayomi serta kapabilitas sebagai sandaran jelas bukan perkara mudah. Begitupun dengan dia.
Dia bukan lagi anak kecil yang sama, yang bermain bersamaku di comberan samping rumah belasan tahun silam, yang datang menangis dengan ingus berceceran sambil mengadu sehabis dijahili oleh temannya. Entah sejak kapan, dia telah tumbuh dan berkembang lebih dari yang kusadari.
Dimasa depan nanti
dia pasti akan jadi seorang ayah yang baik, karena dekat dengan
anak-anaknya,tahu bagaimana memperlakukan keluarganya, tidak segan mengerjakan
pekerjaan rumah, pintar dengan segala urusan perkakas, tapi mungkin akan jadi
lebih bawel dari isterinya. Hahahahha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar