Senin, 05 Agustus 2013

Tanah dan Rembulan


Dulu semua tampak begitu sederhana.
Sebelum langit menginginkan rembulan menjajaki malam.
Merenggutnya dari tanah bumi.

Kini,
hanya dapat berbisik.
Merenung.
Berharap nyanyian sunyi menyelusup dalam relung.
Bercampur baur dalam haru rindu,
diantara huru hara kehidupan,
hiruk pikuk penghidupan.
Hingga  interkoneksitas langit mengizinkannya sampai pada rembulan,
yang berada jauh dari dekapan.

Seperti tanah yang tak kan sampai pada rembulan.
Seperti aku dan kamu yang tak lagi hidup dalam satu dunia.
Seperti langit yang memisahkan kita, dalam takdir yang tak lagi tergenggam.

Malam ini,
rembulan lebih istimewa dari kunang-kunang.
Semburat garis khayalnya terpampang dengan jelas.
Wahai langit, bisakah kau bawa aku mendekat ke sana?


                                                                      "Buku ttg kita", buku kedua halaman terakhir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar