Dulu semua tampak
begitu sederhana.
Sebelum langit
menginginkan rembulan menjajaki malam.
Merenggutnya dari
tanah bumi.
Kini,
hanya dapat
berbisik.
Merenung.
Berharap nyanyian
sunyi menyelusup dalam relung.
Bercampur baur dalam
haru rindu,
diantara huru hara
kehidupan,
hiruk pikuk
penghidupan.
Hingga interkoneksitas langit mengizinkannya sampai
pada rembulan,
yang berada jauh
dari dekapan.
Seperti tanah yang
tak kan sampai pada rembulan.
Seperti aku dan kamu
yang tak lagi hidup dalam satu dunia.
Seperti langit yang
memisahkan kita, dalam takdir yang tak lagi tergenggam.
Malam ini,
rembulan lebih
istimewa dari kunang-kunang.
Semburat garis
khayalnya terpampang dengan jelas.
Wahai langit,
bisakah kau bawa aku mendekat ke sana?
"Buku ttg kita", buku kedua halaman terakhir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar